Logo Header Antaranews Sumbar

Dahlan: Masa Penawaran Merpati Dua Bulan

Jumat, 12 Juli 2013 12:53 WIB
Image Print
Dahlan Iskan

Jakarta, (Antara) - Menteri BUMN Dahlan Iskan memberi waktu selama dua bulan bagi calon investor yang berminat membeli saham PT Merpati Nusantara Airlines. "Kami beri waktu dua bulan bagi calon investor untuk menyampaikan penawaran," kata Dahlan usai menghadiri Rakor Pembahasan Renegosiasi Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batu Bara (PKP2B) di Kantor Menko Perekonomian, di Jakarta, Jumat. Menurut Dahlan, alasan mengundang investor untuk menyelamatkan Merpati yang saat ini terbenani utang hingga sekitar Rp6 triliun. Mantan Dirut PT PLN ini menjelaskan, jumlah saham Merpati yang akan ditawarkan kepada investor tidak terbatas. "Terserah investor saja. Kita mengundang investor untuk menyampaikan proposal penawaran termasuk menyampaikan pokok pemikiran dalam menyelesaikan permasalahan Merpati," ujar Dahlan. Diketahui, Kementerian BUMN sudah berkali-kali melakukan restrukturisasi Merpati mulai dengan opsi penyuntikan dana, pengurangan karyawan, pemindahan kantor pusat, termasuk merestrukturisasi utang kepada kreditur swasta dengan mengkonversi utang (debt to equity swap) menjadi saham. Pada tahun akhir Desember 2011 Merpati memperoleh suntikan dana sebesar Rp561 miliar dari APBN. Namun usulan suntikan tambahan sebesar Rp250 miliar pada tahun 2012 tidak terealisasi hingga saat ini. Bahkan belakangan Kementerian BUMN telah membentuk Tim Restrukturisasi, namun hingga kini tidak mampu mengembangkan perusahaan. Adapun utang Merpati kepada sejumlah perusahaan meliputi PT Pertamina, PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, serta PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Menurut Dahlan, meski berupaya mengundang investor namun dirinya tidak terlalu yakin akan ada pemodal yang bersedia karena beban utang perusahaan yang sangat besar. "Tapi minimal kita telah pernah melakukan penawaran saham Merpati kepada investor. Kalau nantinya benar-benar tidak ada yang berminat, kita kemudian akan mencari langkah yang lain," ujarnya. Sebelumnya (11/7) Dahlan mengatakan sedang memikirkan opsi kemungkinan Merpati tidak lagi melayani jasa penerbangan (aeronautika) jika tidak ada yang berminat membeli perusahaan penerbangan "plat merah" itu. "Opsi ini terakhir, dengan sangat terpaksa eksistensi Merpati harus diakhiri (dilikuidasi--red)," ujar Dahlan. Dengan opsi itu, Merpati tidak lagi terbang namun hanya akan mempertahankan bisnis perbaikan pesawat yaitu Merpati Maintenance Fasility (MMF). "Bisnis perawatan pesawat sangat prospektif, karena memiliki sumber daya manusia yang cukup bagus. Sehingga MMF bisa dijadikan sebagai usaha yang berdiri sendiri untuk menghindari likudasi," ujarnya. Artinya ditambahkan Dahlan, Merpati tidak lagi berbisnis pada jasa penerbangan (aeronautika), tetapi lebih menggarap bisnis non-aeronautika. "Tapi itu merupakan pemikiran, yang bisa saja berubah sesuai dengan kondisi penanganan Merpati secara menyeluruh," ujar Dahlan. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026