Logo Header Antaranews Sumbar

Antropolog: Konflik di NTT Disulut Disparitas

Jumat, 5 Juli 2013 07:59 WIB
Image Print

Kupang, (Antara) - Antropolog dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Pater Gregor Neonbasu mengatakan konflik sosial yang muncul di Nusa Tenggara Timur, umumnya disulut oleh disparitas atau jarak kesejahteraan masyarakat yang masih jauh dari harapan. "Memang ada beberapa fenomena sosial lain seperti terbatasnya lapangan pekerjaan dan kehadiran masyarakat baru yang bersifat heterogen, namun potensi konflik itu lebih banyak disulut oleh faktor disparitas," katanya di Kupang, Jumat, setelah mencermati munculnya berbagai konflik sosial di NTT belakangan ini. Ia menjelaskan persoalan disparitas yang dihadapi masyarakat tersebut diperparah lagi dengan implikasi dan dampak otonomi daerah yang seakan tidak ada titik kesamaan pemahaman. Selain itu, katanya, turunnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja aparatur karena kurang profesional dan koruptif, serta kurang taat pada hukum dan krisis keteladanan. Dalam kaca refleksi antropologis, kata rohaniawan Katolik itu, pendulum konflik tertuju pada suatu kondisi kehidupan bersama, dimana terjadi disharmoni yang seakan tidak ada celah untuk mencari jalan keluar, dan salah satu pihak berusaha dengan berbagai cara untuk menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Ia mengatakan secara sosiologis citra hidup manusia itu sudah tercermin dalam diri setiap pribadi yang dari sananya sudah mengandung potensi konflik, baik pribadi maupun sosial. "Antara kedua jenis konflik ini sering tercampur baur, dalam arti konflik pribadi dapat mengerucut pada konflik sosial yang lebih luas, karena konflik tersebut dapat memberi ruang gerak yang liar pada perbedaan pendapat dalam kehidupan bersama," katanya. Pada umumnya, kata Gregor Neonbasu, esensi konflik pada awal mula terjadi akibat pemahaman yang sangat kurang mengenai perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi, yang pada gilirannya berkembang menjadi ciri dan patokan hidup sosial atau kelompok orang tertentu yang lebih rumit. Menurut dia, ada dua hal mengemuka dalam kehidupan bersama, yakni perbedaan ciri-ciri hidup yang dapat diamati dalam tingkah laku atau perilaku sosial, dan adanya persamaan selain sebagai manusia insan berbudi, juga terdapat beberapa hal baik secara fisik maupun psikologis-spiritual yang ternyata nampak sama pada manusia dalam suatu kerumunan sosial. "Persoalan yang kita hadapi adalah orang terlampau perduli dan memperbesar adanya perbedaan dalam diri setiap pribadi dan dalam diri setiap warga masyarakat. Kecenderungan yang sangat asasi ini sebetulnya didukung oleh kehausan akan hasrat yang dibungkus oleh kepentingan (politik) tertentu," katanya. Kepandaian yang ada pada manusia, kata Gregor Neonbasu, secara pribadi tidak digunakan sepenuhnya untuk membina sikap saling menerima dalam alam perbedaan tersebut, melainkan hal itu diangkat serta dipolitisasi sebagai "pengetahuan dan kreativitas baru" untuk merongrong kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengatakan konflik secara antropologis mulai mengemuka pada saat perhatian orang terus terpana pada perbedaan secara berat sebelah, tanpa sikap realistis untuk memahami hakikat perbedaan sebagai suatu entitas sosial dalam masyarakat. "Sebagai entitas sosial, perbedaan seharusnya dipandang sebagai sebuah kekuatan bagi pembangunan kebersamaan dalam masyarakat setiap hari. Konflik sosial menjadi mudah tercipta, apabila tidak ada sikap rendah hati untuk menerima dan saling menghargai sebagai pribadi yang berbeda satu terhadap yang lainnya," katanya. Konflik secara teori, katanya, sebetulnya berakar pada kegagalan (pribadi atau masyarakat) untuk masuk dalam upaya integrasi dengan lingkungan atau kondisi kehidupan yang berbeda. Ia mengatakan pada perspektif tertentu, perbedaan dan integrasi merupakan citra dari siklus kehidupan, baik yang dialami manusia pribadi, maupun secara bersama dalam kehidupan bermasyarakat. "Perbedaan dan integrasi yang tidak tertata secara sinergis maka akan dengan sendirinya melahirkan konflik, baik dalam diri sendiri maupun masyarakat luas. Sebaliknya perbedaan dan integrasi yang terkoordinasi secara sinergis, justru akan menghasilkan hidup nyaman dan damai," katanya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026