Logo Header Antaranews Sumbar

Jusuf Kalla: Kecil Relevansi BBM Terhadap UMKM

Selasa, 2 Juli 2013 16:19 WIB
Image Print
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kenaikan harga BBM tidak berdampak terlalu banyak kepada beban sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). "UMKM dengan BBM apa saja relevansinya? Tidak banyak saya rasa, karena beban yang ditanggung hanya beberapa persen saja," katanya dalam Kajian Tengan Tahun Indef 2013 yang bertajuk "Formulasi Kebijakan Ekonomi Politik Menjelang Pemilu 2014" di Jakarta, Selasa. Jusuf Kalla menyebutkan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 20 persen hanya berdampak empat persen pada biaya transportasi dan 1,5 persen kenaikan pada harga barang. Menurut pengusaha senior tersebut, ukuran UMKM tersebut juga perlu diperhatikan karena tidak semua rugi karena kenaikan harga BBM. "Usaha kecil ini perlu diperhatikan, kalau omzetnya sampai Rp400 juta per bulan, itu kan besar," ucapnya. Terkait bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebagai imbas kenaikan harga BBM bersubsidi bagi warga yang tidak mampu, JK berpendapat kebijakan itu sudah baik. "Sudah bagus, dulu yang menerima bantuan langsung tunai (BLT) ada 17 juta orang, sekarang cuma 15,5 juta, berarti orang miskin berkurang, dulu miskin sekarang enggak miskin," ujarnya. Dalam mekanisme pembagian BLSM, dia menilai tidak perlu terlalu dipersoalkan mengenai target yang salah sasaran. "Keseribu orang saja pasti ada simpang siur sedikit, apalagi ini ke 15,5 juta kepala keluarga. Yang jelas, yang menerima (BLSM) itu bukan orang Menteng ataupun Kebayoran," ucapnya, menegaskan. Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah menilai kenaikan BBM tidak terlalu berdampak secara signifikan pada IKM, baik biaya transportasi maupun biaya bahan baku. "Kalau dihitung-hitung margin keuntungannya hanya berkurang sedikit karena mereka enggak rela berkurang, jadi harganya dinaikkan. Tidak rugi, hanya mungkin berkurang," tuturnya. Dia menjelaskan para pengusaha hanya perlu waktu untuk menghitung lebih tepat produksi dan langkah-langkah strategisnya. Berdasarkan data hasil litbang Kemenperin, kenaikan biaya produksi sebesar 1,2 persen untuk kenaikan BBM premium sebesar 44 persen dan 0,63 persen. Biaya produksi untuk beberapa komoditas strategis, seperti makanan dan minuman naik sebesar 0,63 persen, semen 0,66 persen serta tekstil dan alas kaki sebesar 1,54 persen. Sementara itu, kenaikan BBM solar sebesar 22 persen menyebabkan kenaikan biaya produksi rata-rata sebesar 0,6 persen. Beberapa komoditas strategis, seperti makanan dan minuman hanya naik sebesar 0,31 persen, semen 0,33 persen, serta tekstil dan alas kaki 0,77 persen. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026