
Bentrokan Tewaskan Tiga Orang di Kolombia

Bogota, (Antara/AFP) - Dua pemberontak FARC dan seorang anggota pasukan khusus Kolombia tewas dalam bentrokan yang meletus di wilayah baratdaya ketika militer menguasai sebuah kamp gerilyawan. Bentrokan itu terjadi pada Kamis sore di Cauca di daerah Caldono, kata militer dalam sebuah pernyataan, Jumat. "Dua teroris yang membawa senjata tipe senapan jarak jauh ditumpas," kata pernyataan tersebut, yang juga mengumumkan kematian prajurit itu. Setelah pemeriksaan di daerah itu, ditemukan sebuah senjata mesin M-60, lima senapan dengan berbagai kaliber, lebih dari 400 peluru amunisi dan "sejumlah besar bahan yang digunakan dalam pembuatan peledak", kata militer. Bentrokan itu terjadi ketika pemerintah dan pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) melakukan perundingan dalam upaya mengakhiri konflik puluhan tahun di negara itu. Proses perdamaian Kolombia saat ini sedang reses dan akan dimulai lagi pada 11 Juni. Dalam pengumuman pada 26 Mei, pemerintah Kolombia dan pemberontak FARC mencapai sebuah perjanjian mengenai reformasi tanah, salah satu masalah paling diperdebatkan selama negosiasi perdamaian yang berlarut-larut. Menurut perjanjian antara pemerintah dan kelompok pemberontak FARC, kompensasi akan diberikan kepada penduduk yang kehilangan tanah atau meninggalkan rumah mereka akibat konflik, kata diplomat Kuba Carlos Fernandez de Cossio, yang negaranya menjadi tuan rumah negosiasi yang telah berlangsung berbulan-bulan. Sejauh ini perundingan di Pusat Konvensi Havana dipusatkan hampir seluruhnya pada reformasi tanah -- yang pertama dari lima pokok persoalan yang dibahas. Distribusi tanah merupakan salah satu penyulut konflik puluhan tahun di Kolombia, dimana terjadi ketimpangan yang dalam antara pemilik tanah yang kaya dan petani yang miskin. Masalah-masalah penting lain yang akan dibahas adalah obat terlarang, penonaktifan senjata dan penanganan korban konflik bersenjata yang selama hampir setengah abad melumpuhkan Kolombia. Kekerasan masih terus berlangsung meski upaya-upaya perdamaian dilakukan oleh kedua pihak. FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. Kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964. Sejak November kelompok itu melakukan perundingan dengan pemerintah Kolombia, meski bentrokan-bentrokan terus berlangsung tanpa adanya gencatan senjata. Pemerintah Kolombia dan FARC memulai dialog di Oslo, ibu kota Norwegia, pada 18 Oktober yang bertujuan mengakhiri konflik setengah abad yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Perundingan itu dilanjutkan sebulan kemudian di Havana, Kuba. Tiga upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik itu telah gagal. Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa kelompok itu menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
