Demam berdarah serang NTT, 2.116 kasus 31 meninggal dunia

id Menkes, DBD,DBD serang NTT,NTT diserang DBD,bahaya demam berdarah

Demam berdarah serang NTT, 2.116 kasus 31 meninggal dunia

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam sebuah acara di Kemenkes. ANTARA/Katriana

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan dr. Terawan Agus Putranto mengatakan kasus demam berdarah di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mencapai 2.116 orang.

"Ini sangat serius," kata Menkes usai memimpin acara pelantikan dr. Achmad Yurianto sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) yang baru, menggantikan dr. Anung Sugihantono di Kemenkes, Jakarta, Senin.

Ia mengatakan selain wabah virus SARS-COV-2 yang banyak menyita perhatian banyak pihak, kasus DBD yang semakin merenggut banyak korban juga perlu menjadi fokus penanganan.

"Inilah yang justru lebih mematikan. Bayangin, hanya dalam hitungan bulan sama hari," katanya.

Dari 2.116 kasus yang ia sebutkan, 31 orang di antaranya meninggal, dengan kasus kematian terbanyak tercatat di Kabupaten Sikka 13 kasus.

Menkes mengatakan akan langsung menuju ke kabupaten tersebut untuk memeriksa situasi dan mencoba mengendalikannya.

"Saya harus terbang saat ini ke NTT untuk mengecek supaya jangan ada kematian lagi," katanya.

Ia mengatakan dirinya masih belum mengetahui secara pasti faktor lingkungan seperti apa yang meningkatkan jumlah kasus di Kabupaten Sikka.

"Nanti saya akan lihat, saya kan belum pernah menginjakkan kaki di Sikka" katanya.

Melihat kasus yang terus meningkat itu, Menkes Terawan mengimbau seluruh masyarakat untuk melaksanakan 3 M, yaitu menguras dan menyikat kamar mandi, menutup tempat-tempat penampungan air atau genangan lain yang dapat dijadikan sebagai tempat bertelur, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas, sehingga tidak terabaikan dan menjadi sumber penularan penyakit.

"3 M itu dilakukan, termasuk membersihkan lingkungan dan sebagainya. Jangan sampai ada air tergenang di sekitar rumah," katanya.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar