Belum ada kasus antraks di Payakumbuh dalam lima tahun terakhir

id antraks,payakumbuh,penyakit sapi

Belum ada kasus antraks di Payakumbuh dalam lima tahun terakhir

Kepala UPTD Puskeswan Dinas Pertanian Payakumbuh Trisna Yesi di Payakumbuh, Rabu (22/1). (ANTARA/Akmal Saputra)

Payakumbuh (ANTARA) - Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, menyebutkan belum ada temuan kasus antraks di daerah itu dalam lima tahun terakhir.

"Dalam lima tahun terakhir ini, kami memang belum pernah menemukan adanya kasus antraks di Payakumbuh," ujar Kepala UPTD Puskeswan Dinas Pertanian Payakumbuh Trisna Yesi di Payakumbuh, Rabu.

Untuk langkah antisipasi, katanya, pihaknya melalui penyuluh dan tokoh masyarakat telah mensosialisasikan melalui edaran dan langsung turun ke lokasi ternak untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.

"Kami tahu bahwa dalam musim penghujan biasanya marak terjadi. Karena itu langkah antisipasi kita itu memberikan ilmu terkait antraks," sebutnya.

Ia menyebutkan ketika ditemui ada hewan yang dicurigai terkena antraks, masyarakat tidak boleh memberikan penanganan langsung kepada hewan atau ternak tersebut.

Bakteri antraks dapat menyebar dari hewan ke manusia ketika seseorang menyentuh kulit atau bulu hewan yang terinfeksi, maupun memakan daging hewan yang kurang matang, atau menghirup bakteri anthraks.

"Kalau antraks ini kan bersifat zoonosis yang dapat menular kepada manusia melalui bahan pangan hewan, luka dan kontak langsung. Jadi tidak boleh ada kontak langsung dengan ternak tersebut," ujarnya.

Oleh sebab itu, apabila masyarakat mencurigai ternaknya terkena antraks bisa langsung menghubungi penyuluh atau pihak dari Dinas Pertanian Kota Payakumbuh.

"Kalau memang dicurigai antraks, lapor langsung kepada kami dan kami akan langsung turun ke lokasi," kata dia.

Setelah itu, Trisna juga mengimbau masyarakat untuk memasak daging yang dibeli dengan matang maksimal.

Untuk ciri-ciri umum hewan terkena antraks, kata dia, dapat dilihat dari kondisi hewan tersebut seperti demam dan ada pembekakan di kelenjar atau limpa.

"Ciri-ciri khususnya, yakni keluar darah melalui lubang hidung, mulut, telinga atau lubang anus hewan. Bahkan ada darah yang keluar dari sela-sela kaki," sebutnya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar