
Dirjen P2PL: Virus H7N9 Bisa Ditangani dengan Oseltamivir

Jakarta, (Antara) - Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan jenis flu burung baru H7N9 yang sedang menyerang beberapa provinsi di China dapat ditangani dengan oseltamivir yang digunakan untuk menangani kasus flu burung yang lain. "Pemeriksaan laboratorium menunjukkan oseltamivir dan zanamivir yang biasa kita gunakan, virus H7N9 tidak menunjukkan resistensi terhadap obat-obat tersebut, artinya bisa digunakan. Tapi untuk efektivitas, secara umum belum bisa kita katakan sekarang karena pasiennya baru sedikit dan baru terjadi beberapa bulan ini," kata Tjandra di Jakarta, Senin. Virus flu burung jenis H7 itu, kata Tjandra, memang pernah menyerang manusia yaitu H7N2, H7N3, H7N5 dan H7N7. "Kenapa jadi masalah, karena jenis virus H7 ini biasanya tidak menyerang manusia. Sudah ada yang menyerang manusia, virus H7N7, jumlahnya sekian puluh orang dengan satu orang meninggal dunia. Sedangkan H7N2 dan H7N3 yang menyerang manusia biasanya keluhannya ringan seperti infeksi pernafasan dan gangguan pada mata," papar Tjandra. Sementara virus H7N9 baru pertama kali menyerang manusia di beberapa provinsi di China yang belum diketahui secara pasti penularannya dari mana. "H7N9 menyerang manusia baru pertama kali terjadi di China ini, jumlah kasusnya saya kira sekarang 19-20, karena jumlah kasus terus berkembang," katanya. Tjandra mengatakan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menemukan virus H7N9 tersebut ditemukan pada burung merpati di Shanghai sehingga pemerintah China menutup pasar unggas di kota itu namun belum menemukan secara nyata bagaimana penularannya kepada manusia. "Mereka (Pemerintah China) masih mencari penularannya bagaimana dan sementara itu, mereka sudah melaporkan dan WHO dan menyerahkan contoh virusnya," kata Tjandra. Kejadian adanya korban dari virus H7N9 sejauh ini baru ditemukan di beberapa provinsi di China dan Pemerintah Indonesia belum mengeluarkan "travel warning" maupun "travel restriction" ke China meskipun Tjandra mengatakan Kementerian Kesehatan sangat waspada dan mengikuti perkembangannya setiap saat. Sedangkan untuk antisipasi di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan surat edaran kepada Dinas Kesehatan diseluruh daerah dan RS pemerintah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang mungkin ditemukan. "Sedang kami pikirkan langkah selanjutnya untuk mengirimkan surat edaran kedua untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, misalnya untuk pasien dengan pneumonia berat dan tidak tahu penyebabnya. Tapi masih kita godok kemungkinannya," ujar Tjandra. Meski demikian, Tjandra menegaskan bahwa belum ada penularan virus flu burung dari manusia ke manusia dimana penularan masih dari unggas ke manusia. Kasus H7N9 itu disebut Tjandra berbeda dengan jenis flu burung yang lain dimana H5N1 menimbulkan kematian yang besar pada unggas dan penularan pada manusia terjadi setelah itu namun untuk H7N9 kasusnya berawal pada manusia terlebih dulu, kemudian pada unggas. "Jadi pihak departemen pertanian menduga kejadian pada unggas tidak terlalu berat. Ini fenomena baru, sedang diteliti kenapa muncul di manusia dulu, baru pada unggas," kata Tjandra. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
