Logo Header Antaranews Sumbar

SDA: Tidak Gentar Tegaskan PPP Berasaskan Islam

Rabu, 3 April 2013 12:32 WIB
Image Print

Haurgeulis, Indramayu, Jabar, (Antara) - Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) menegaskan, pihaknya tetap konsisten bahwa partai sejak lahir hingga kini tetap berasaskan Islam meski ada umat Islam meragukan kekuatan asas tersebut. Masih ada umat Islam takut dijuluki tak tidak demokratis jika berpegang pada asas Islam, tapi pihaknya yakin bahwa asas itu merupakan pilihan terbaik, kata SDA - sapaan akrab Suryadharma Ali - usai melakukan panen raya di kawasan persawahan kompleks Pondok Pesantren Al Zaitun, Haurgelis, Indramayu, Jawa Barat, Rabu. Panen raya tersebut disaksikan Pimpinan Ponpes Al Zaitun Panji Gumilar, para pengajar Ponpes tersebut. Hadir pada saat itu Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Aceh Saefuddin, Kapuslitbang Kerukunan Agama Kemenag Nurcholis Setiawan, Setditjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin dan sejumlah pejabat Kemenag Jawa Barat. Jenis padi sidomilirsuda tergolong istimewa. Selain kuat terhadap terpaan angin, tahan dari rontok dan memiliki butir banyak. Anak padi bisa mencapai 20 batang, butiran sekitar 560. Untuk satu hektare bisa menghasilkan 60 ton gabah kering. Itu perhitungan saat musim kemarau. Jika musim hujan bisa lebih banyak lagi. Ia menjelaskan, masih ada yang mendiskriditkan partai Islam makin lemah. Sejak 1955 hingga 2009, perolehan suaranya terus merosot. Seolah Islam tak punya kekuatan dalam berpolitik. Dia mengakui umat Islam di Indonesia itu seperti anak bongsor. Besar di badan, tetapi kurang berkualitas. Bahkan jika umat Islam berpolitik, disebut bahwa berpolitik itu kotor. Padahal, lanjut dia, yang kotor bukan politiknya. Tetapi oknumnya. Ironis memang, sebagai mayoritas kekuatan politiknya lemah. Untuk itu, ia mengajak umat Islam tidak memandang politik kotor. PPP berasaskan Islam, dengan segala konsekuensinya, ingin mengajak umat Islam mendukung partai itu agar aspirasinya dapat disalurkan ke lembaga legislatif. Jika bukan partai Islam seperti PPP siapa lagi. Ia pun berharap jika ada ulama meninggalkan partai ini hanya dengan alasan takut disebut tidak demokratis, tidak toleran, kurang percaya diri bisa mensejahterakan rakyat, hendaknya pendapat tersebut ditinggalkan. Sebab, Islam sudah lama mengajarkan kehidupan demokratis, toleransi dan upaya mensejahterakan rakyat melalui zakat dan infak. "Apakah ajaran Islam tidak demokratis, toleran dengan umat lain. Saya kira para ulama sudah memiliki jawabannya," katanya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026