Logo Header Antaranews Sumbar

BI Optimalkan Bauran Kebijakan Moneter dan Makroprudensial

Selasa, 12 Maret 2013 11:51 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) -Asisten Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dalam menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendukung stabilitas sistem keuangan. Perry menjelaskan di Jakarta, Selasa bahwa optimalisasi bauran kebijakan moneter dan makroprudensial itu akan mampu membantu BI menjalankan peran strategisnya dalam mengawal perekonomian nasional menuju stabilitas makroekonomi dan kesinambungan perekonomian. Selain itu, BI juga perlu mempererat koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah serta OJK untuk memperkuat ketahanan perekonomian nasional. Menurut Perry, implementasi kebijakan moneter tidak dapat hanya bertumpu pada instrumen suku bunga, karena berbagai permasalahan ekonomi, termasuk stabilitas harga dan nilai tukar Rupiah yang menjadi mandat BI, tidak hanya disebabkan oleh faktor moneter. "Terlebih lagi, dengan kondisi sektor keuangan di Indonesia, pengaruh kebijakan moneter dapat berlangsung melalui suku bunga, nilai tukar, uang beredar, kredit, maupun harga aset," kata mantan Direktur Eksekutif IMF itu. Di samping itu, pembentukan harapan para pelaku ekonomi dan kebijakan otonomi daerah serta perkembangan ekonomi antar daerah penting pula dipertimbangkan. Kebijakan moneter yang hanya bertumpu pada suku bunga, menurut Perry tidak akan efektif dan biayanya mahal untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi seperti inflasi tinggi, nilai tukar yang bergejolak, kredit yang melaju terlalu cepat, dan neraca pembayaran yang defisit. "Suku bunga akan terlalu tinggi dan membebani perekonomian. Biaya moneter yang harus dikeluarkan BI juga akan mahal," katanya. 5 instrumen Perry menjelaskan ada lima instrumen kebijakan yang akan diterapkan yaitu mengarahkan BI rate agar pergerakan inflasi berada dalam sasaran, menjaga stabilitas nilai tukar sesuai kondisi fundamental, pengendalian aliran modal asing khususnya yang berjangka pendek dan spekulatif, pengendalian likuiditas dan kredit agar konsisten dengan arah prakiraan makroekonomi dan koordinasi dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dan penguatan komunikasi kebijakan. Perry meyakini penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut lebih efektif dan efisien dalam mendukung kinerja moneter dan ketahanan perekonomian nasional terhadap dampak krisis global. "Kinerja moneter yang positif selama ini merupakan testimoni hasil dari penerapan bauran kebijakan tersebut. Inflasi yang rendah dan stabilitas nilai tukar Rupiah mampu mendukung kinerja pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Stabilitas sistem keuangan terjaga dan fungsi intermediasi perbankan dalam pembiayaan perekonomian juga berkembang," katanya.(*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026