
Chad Muncul Sebagai Kekuatan Baru di Kawasan Sahel, Afrika

N'Djamena, (Antara/Reuters) - Chad muncul sebagai kekuatan besar baru di kawasan Sahel, Afrika setelah mengklaim membunuh dua pemimpin teroris saat membantu pemerintah Mali mengusir pemberontak. Besarnya kekuatan angkatan bersenjata dimiliki telah menghapus gambaran Chad sebagai salah satu negara termiskin di dunia. "Dalam beberapa tahun terakhir, Chad mencoba untuk menempatkan dirinya sebagai kekuatan utama di kawasan Afrika dan mereka melakukannya dengan sangat baik," kata seorang sumber dari negara Barat yang tidak disebutkan namanya oleh AFP. Chad, yang antara 2005 sampai 2010 masih bergejolak oleh perang saudara, menghapus jejak masa lalunya yang bermasalah setelah bergabung dengan pasukan Prancis di Mali. Sejak Januari, negara tersebut menempatkan lebih dari 2.000 tentara di garis depan perburuan pejuang pemberontak Al-Qaeda yang saat ini bersembunyi di pegunungan Ifoghas. Setelah kesepakatan damai tercapai di negeri gurun itu tiga tahun yang lalu, Chad berhasil membangun hubungan diplomatik baru dengan Masyarakat Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) dan juga Masyarakat Negara-Negara Sahel-Sahara (CEN-SAD). Sementara ECOWAS secara perlahan terus menarik 6.000 tentaranya dari Mali, Chad dengan cepat merespon seruan Mali yang meminta bantuan. Chad adalah negara yang tercepat dalam menempatkan pasukan di Mali. Namun, beberapa sumber militer mengatakan bahwa meskipun tentara Chad dikenal karena keberanian dan kedisiplinannya, mereka masih kurang dalam hal pengalaman yang sangat dibutuhkan di medan terjal pegunungan Ifoghas. Seorang pejabat tinggi militer Afrika yang dirahasiakan identitasnya oleh AFP meremehkan peran militer Chad di Mali. Dia mengatakan, "pasukan Chad tidak dapat melakukan apapun tanpa kehadiran Prancis. Chad menempatkan 2.000 tentara dengan cepat namun sekarang mereka harus menghadapi persoalan logistik." "Pasukan Chad juga kesulitan berkoordinasi dengan Prancis--dua pasukan itu sangat berbeda," kata pejabat tersebut. Sampai saat ini, Chad telah kehilangan 27 anggota militernya dalam peperangan di Mali. Jika laporan kematian Mokhtar Belmokhtar dan Abdulhamid Abu Zaid, dua pemimpin kelompok teroris di Mali, dapat dipastikan, maka Chad akan dipuji karena telah membunuh dua pemimpin Al-Qaeda di kawasan Sahel dan juga menghancurkan pemberontak Mali. Abu Zaid adalah pemimpin organisasi Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) sementara Belmokhtar adalah otak dibalik serangan di pembangkit gas Aljazair yang menewaskan 37 tawanan dari luar negeri. Kepastian dari klaim Chad akan menjadi kebanggaan bagi Presiden Idriss Debby yang menyebut dirinya sebagai tameng Afrika dari kelompok Islam radikal. Negara tersebut juga akan mengambil keuntungan dari hubungan baik dengan negara Barat, khususnya dalam hal bantuan dan pinjaman finansial. Pemerintah dari negara Barat sampai saat ini masih belum mengkonfirmasi klaim Chad akan kematian dua pemimpin teroris. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
