Logo Header Antaranews Sumbar

Permukiman warga Badui selamat dari bencana gempa Lebak

Jumat, 26 Januari 2018 19:28 WIB
Image Print
Warga mengecek paviliun rumahnya yang roboh akibat gempa bumi berkekuatan 6,4 SR di Kampung Kakudu, Cilograng, Lebak, Banten, Selasa (23/1). Data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Banten menyebutkan gempa bumi yang terjadi di titik 81 km Barat Daya Lebak-Banten pukul 13.34 WIB dengan kedalaman 10 km itu mengakibatkan kerusakan 314 rumah (178 rumah diantaranya rusak berat), satu masjid dan Puskesmas di Kecamatan Lebak Gedong juga mengalami kerusakan. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/aww/18) (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/aww/18/)

Lebak, (Antaranews Sumbar) - Permukiman masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten selamat dari guncangan bencana gempa tektonik berkekuatan 6,1 Skala Richter (SR).

"Kami belum menerima laporan adanya rumah warga Badui terdampak bencana gempa hingga mengalami kerusakan," kata Santa (45) warga Badui saat dihubungi di Lebak, Jumat.

Selama ini, permukiman kawasan masyarakat Badui di tanah hak ulayat adat di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak relatif aman bencana gempa tektonik.

Sebab, umumnya masyarakat Badui membangun rumah dari kekayuan dan bambu serta atap rumbia.

Karena itu, kondisi rumah Badui bisa bertahan terhadap getaran gempa tektonik tersebut.

Bahkan, pihaknya hingga kini warga kawasan permukiman Badui belum pernah mengalami kerusakan akibat gempa bumi.

Padahal, gempa tektonik itu sering terjadi seperti tahun 1973,1974, 1999, 2005, 2012 hingga 2018 yang terjadi di Ujung Kulon Pandeglang dan Pesisir Pantai Lebak.

Sebab, Perairan selatan Banten itu merupakan daerah arwan gempa tektonik dan tsunami.

"Kami membangun rumah juga sebagai perintah adat dan tidak ditemukan rumah di Badui menggunakan batu bata dan pasir," katanya.

Santa mengatakan, masyarakat Badui mengucapkan keprihatinan atas musibah bencana gempa tektonik yang mengakibatkan kerusakan rumah hingga ribuan unit.

Selain itu juga menimbulkan seorang korban jiwa dan luka-luka akibat tertimpa reruntuhan rumah.

Kejadian bencana gempa itu tentu menjadikan peringatan agar manusia mencintai alam dengan melakukan pelestarian dan menjaga dengan baik.

Apabila alam dan lingkungan itu tidak dijaga dan dilestarikan tentu yang akan berdampak adalah manusia juga sebagai penghuni di muka bumi, kata Santa.

Tetua Adat yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Saija mengatakan hingga kini warga Badui sekitar 10.600 jiwa tidak ditemukan laporan korban gempa tektonik.

Semua rumah-rumah masyarakat Badui di sini dibangun dengan menggunakan bahan alami sehingga tahan terhadap gempa.

Selain itu juga tidak ditemukan warga Badui memiliki bangunan semi permanen maupun permanen.

"Karena itu, jika terjadi gempa tektonik tentu rumah warga Badui selamat dari getaran gempa itu," katanya. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026