Logo Header Antaranews Sumbar

Yen Menguat Setelah Peringatan G7

Rabu, 13 Februari 2013 11:41 WIB
Image Print

Tokyo, (Antara/AFP) - Yen menguat di perdagangan Asia, Rabusetelah Kelompok Tujuh (G7) negara-negara terkaya mengeluarkan peringatan atas mata uang manipulasi, seperti Tokyo menghadapi beberapa klaim negara itu telah mengatur pelemahan yen. Dolar dibeli 93,30 yen dalam perdagangan pagi di Tokyo, turun dari 93,47 yen di New York pada Selasa, sementara euro ditransaksi pada kisaran 125,51 yen dari 125,75 yen. Sedangkan mata uang tunggal hampir datar pada posisi 1,3449. Yen, telah menurun tajam dalam beberapa bulan terakhir didukung oleh pelonggaran retorika agresif dari pemerintah baru Jepang, baik dari tingkat Selasa pagi di atas 94 terhadap dolar dan lebih tinggi ketimbang 126 terhadap euro. G7 menyatakan Selasa bahwa turbulensi berlebihan di pasar valuta asing mengganggu stabilitas keuangan, dan mempertahankan suku bunga yang ditetapkan oleh pasar, meski kritik oleh Prancis dan di tengah kekhawatiran seputar devaluasi yang didorong secara politis. "Kami, para menteri G7 dan gubernur, menegaskan kembali komitmen lama kami untuk nilai tukar yang ditentukan oleh pasar dan berkonsultasi erat berkaitan dengan langkah-langkah di pasar valuta asing," tulis pernyataan singkat Selasa. Kelompok ini menambahkan bahwa para anggota akan menjaga kebijakan fiskal dan moneter terbatas dan "tidak menargetkan nilai tukar." Berbagai komentar datang hanya beberapa hari menjelang perundingan G20 di Moskow di mana anggota parlemen akanmendiskusikan kekhawatiran dari perang mata uang, di mana negara melakukan devaluasi untuk membuat ekspor mereka lebih kompetitif. Pasar juga akan menunggu pertemuan kebijakan dua hari Bank of Japan (BoJ), yang diadakan Kamis dan apakah para pembuat kebijakan memperkenalkan langkah-langkah pelonggaran baru. Pimpinan strategis Barclays Securities Japan, Chotaro Morita mengatakan komentar G7 dapat mempengaruhi "keputusan kebijakan BoJ mendatang tingkat tertentu." Penyebutan eksplisit kebijakan fiskal dan moneter tampaknya ditujukan Jepang, dan "bisa membuat sulit bagi BoJ tidak hanya untuk membeli obligasi asing tetapi juga untuk melakukan pelonggaran moneter dengan cara lain yang secara jelas berdampak pada nilai tukar," tambah Morita. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026