Logo Header Antaranews Sumbar

BI Harapkan TPID Ikut Sosialisasikan Rupiah Baru

Selasa, 24 Januari 2017 21:07 WIB
Image Print
Lembaran mata uang Rupiah edisi baru diperlihatkan di Manado, Sulawesi Utara. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)

Padang, (Antara Sumbar) - Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mengharapkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) setempat ikut menyosialisasikan rupiah baru terkait beredarnya sejumlah informasi yang dinilai tidak tepat setelah mata uang tersebut resmi diterbitkan.

"Yang paling sering disebut adalah adanya gambar palu arit, kami tegaskan hal itu bukan gambar palu dan arit melainkan teknologi pengamanan berupa gambar saling isi yang disebut 'rectoverso'," kata Kepala BI perwakilan Sumbar, Puji Atmoko di Padang, Selasa.

Ia menyampaikan hal itu pada pertemuan tingkat tinggi TPID Sumatera Barat dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno Kepala Bulog Sumbar, Benhur Nkaimi dan pemangku kepentingan dari kabupaten dan kota.

Menurut dia penggunaan rectoverso sebagai pengaman sudah diterapkan pada mata uang rupiah sejak 1993 dan logo serupa juga ada pada uang rupiah yang diterbitkan pada tahun 2000.

"Jadi tidak benar ada lambang palu dan arit dan yang jadi tanda tanya mengapa hal ini baru dipermasalahkan sekarang, padahal sudah ada sejak beberapa tahun lalu," ucapnya.

Ia menjelaskan rectoverso dibuat dengan teknik cetak khusus pada uang kertas yang membuat gambar berada di posisi yang sama dan merupakan salah satu teknologi yang paling sulit untuk dipalsukan.

"Negara-negara lain dalam membuat pengamanan mata uangnya juga menggunakan rectoverso," ujarnya.

"Jadi tidak ada maksud untuk pro-komunis, tidak ada maksud seperti itu, hanya gambar yang dipotong seperti puzle," lanjut dia.

Ia menyampaikan Presiden Jokowi saat peluncuran uang baru sudah mengingatkan agar masyarakat tidak menyebar gosip soal rupiah.

Selain itu Puji juga membantah BI mencetak uang baru di PT Pura Barutama sebagaimana informasi yang beredar di media sosial karena berdasarkan Undang-Undang Mata Uang yang ditugaskan mencetak uang adalah Perum Peruri.

Sebelumnya juga tidak pernah BI mencetak uang baru di swasta, hanya untuk bahan baku pernah diperoleh dari PT Pura Barutama, katanya.

Sementara salah seorang peserta rapat Feri Asman mengatakan baru pertama kali melihat langsung rupiah baru dan berharap BI melakukan sosialisasi lebih intensif.

Selama ini memang ada informasi beredar ada lambang palu arit dan lainnya, jika dilakukan sosialisasi lebih banyak tentu kecurigaan tersebut akan hilang dengan adanya penjelasan seperti ini, tuturnya. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026