
HRW Desak Penyelidikan di Mali

Johannesburg, (Antara/AFP) - Organisasi hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) pada Kamis menyerukan penyelidikan atas dugaan pelanggaran, termasuk hukuman mati setelah laporan tentang pembunuhan balas dendam oleh pasukan Mali, yang didukung Prancis. "Semua pihak melakukan pelanggaran sangat serius dan kami percaya bahwa mereka harus diselidiki," kata Tiseke Kasambala, direktur kelompok itu untuk Afrika, di Johannesburg. Para aktivis HAM juga telah mendokumentasikan kasus perekrutan tentara anak dan perkosaan, katanya. Dia juga menyerukan kepada pasukan intervensi Perancis "untuk memastikan bahwa mereka meminimalkan kekejaman terhadap kalangan sipil dan jumlah kematian dalam intervensi mereka ke benteng terakhir gerilyawan di Mali utara". Sementara itu direktur eksekutif kelompok yang berbasis di AS ini, Kenneth Roth menyatakan kekhawatiran jika aksi pembalasan akan terus berlangsung selama gerilyawan didorong keluar. Kelompok-kelompok yang bersekutu dengan pemberontak Tuareg tahun lalu menimbulkan serangkaian kekalahan di pihak tentara Mali dalam upayanya untuk mengambil kendali kawasan utara negara itu dan ada kekhawatiran adanya aksi pembalasan atas penghinaan itu. Para peneliti di lapangan, mengatakan bahwa tentara Mali "telah terlibat dalam serangkaian aksi pembunuhan balasan dan penghilangan. Kami takut akan ada lebih dari itu ", katanya kepada wartawan di London. Kelompok gerilyawan juga telah dituduh melakukan pelanggaran. "Kami sangat prihatin dengan pemberlakukan bentuk ekstrem dari hukum syariah oleh para jihadis, "kata Roth." Kami telah melihat eksekusi, amputasi, dan penghancuran kekayaan budaya." Roth berbicara pada sebuah konferensi pers untuk mengungkap laporan tahunan kelompoknya akan praktek perlindungan hak asasi manusia di seluruh dunia. Saat Prancis mempersiapkan diri untuk menyerahkan tugas militer di Mali pada kekuatan multinasional Afrika, Roth meminta badan-badan internasional seperti Uni Afrika memberikan "tekanan serius" terhadap pasukan Mali untuk menghormati hak-hak dasar. "Kami sudah aktif mendorong, saat pasukan internasional masuk, agar pemantau hak asasi manusia internasional bergabung dengan mereka, "katanya. Kelompok ini memperingatkan bahwa negara itu berdiri pada titik kritis dari krisis hak asasi manusia. Amerika Serikat telah menyerukan Mali untuk menahan diri dari aksi balas dendam pada Tuareg atau etnis minoritas lainnya. Prancis mengatakan pekan ini bahwa ia mendukung penyebaran cepat misi pemantau internasional untuk memantau pelanggaran hak asasi manusia seiring dengan persiapan pasukannya untuk menyerahkan kepemimpinan kepada pasukan Afrika untuk Mali (AFISMA). (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
