Logo Header Antaranews Sumbar

ADB Kembali Beri Bantuan ke Myanmar

Selasa, 29 Januari 2013 06:32 WIB
Image Print

Jakarta, (ANTARA) - Bank Pembangunan Asia (ADB) kembali beroperasi di Myanmar, melalui pemberian paket bantuan untuk pembangunan sosial dan ekonomi, guna menciptakan landasan kokoh bagi reformasi lanjutan dalam mengentaskan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan. "Ini merupakan saat bersejarah bagi Myanmar," ujar Wakil Presiden ADB untuk Operasional Kawasan Asia Timur, Tenggara, dan Pasifik, Stephen Groff dalam keterangan pers tertulis yang diterima di Jakarta, Senin. Menurut Stephen, dengan masuknya bantuan ADB serta berbagai reformasi penting di sektor pemerintahan dan keuangan yang telah mengalami kemajuan, dapat membuat kerja sama ini lebih erat. Terutama dalam menentukan kebutuhan pembangunan dan menyusun rencana proyek-proyek prioritas yang dimaksudkan untuk membantu pemerintah Myanmar memaksimalkan peluang bagi transformasi. "Untuk memastikan agar Myanmar berada dalam posisi terbaik untuk memanfaatkan kembalinya bantuan ini, kami terlebih dahulu memfokuskan diri pada upaya meletakkan landasan untuk menciptakan stabilitas dan keberlanjutan," ujarnya. Dengan landasan tersebut, Stephen mengharapkan kerja sama ini dapat mendorong tumbuhnya investasi penting untuk proyek-proyek pembangunan jalan, energi, irigasi, dan pendidikan, serta investasi di sektor lainnya. Menurut dia, dukungan perdana ADB adalah membantu Myanmar untuk membangun ekonomi yang lebih berdaya saing dengan memberikan pinjaman senilai 512 juta dolar AS. Bantuan itu digunakan untuk perbaikan sektor keuangan publik, perdagangan, investasi, usaha kecil dan menengah, dan pengembangan sektor finansial. Hal tersebut dilakukan dengan meneruskan berbagai langkah reformasi signifikan yang telah dilakukan pemerintah, termasuk reformasi terhadap bank sentral, liberalisasi perdagangan dan investasi. Pinjaman ini diharapkan memberikan manfaat di daerah pedesaan yang pembangunannya terhambat oleh kurangnya infrastruktur, keterbatasan tanah, layanan pendukung yang tidak memadai, dan keterbatasan akses petani terhadap layanan keuangan. Bantuan ADB juga akan membangun strategi untuk memperluas akses terhadap layanan perbankan serta dipergunakan untuk mengidentifikasi dan mengatasi kesenjangan akses terhadap pendidikan teknis dan lanjutan. "Bantuan akan memberi kesempatan bagi warga Myanmar untuk mempersiapkan diri dan memanfaatkan peluang dari perbaikan ekonomi," kata Stephen. Pinjaman ini merupakan bantuan pertama ADB selama lebih dari 30 tahun, yang dimungkinkan melalui kerjasama pembiayaan pada pemerintah Myanmar oleh Japan Bank for International Cooperation (JBIC) pada 17 Januari 2013. Bantuan tersebut juga dipergunakan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memperbaiki proses anggaran nasional dan memodernisasi sistem administrasi pajak. Selain itu juga untuk mendukung reformasi kebijakan perdagangan dan pengembangan kapasitas, memperbaiki iklim investasi, serta pengembangan usaha kecil dan menengah. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026