Logo Header Antaranews Sumbar

Pemberontak Komunis Bunuh Sembilan Orang di Filipina

Minggu, 27 Januari 2013 18:52 WIB
Image Print

Manila, (ANTARA/AFP) - Pemberontak komunis menyerbu truk pengangkut polisi dan penjaga keamanan yang menewaskan setidaknya sembilan orang dan mencederai enam lagi di Filipina tengah, Ahad, kata pejabat. Inspektur Kepala Rico Santotome, menyebutkan polisi dan para penjaga keamanan desa itu dalam perjalanan pulang setelah bertugas pada perayaan di kota pulau Negro, Filipina tengah, sebelum fajar ketika sekitar 30 pria bersenjata berat menembaki mereka. Di antara yang tewas itu adalah seorang polisi, enam penjaga desa, istri seorang penjaga desa dan sopir truk itu, kata juru bicara polisi itu. "Para penyerang ingin membunuh mereka semua di kendaraan itu, terutama polisi. Mereka menembaknya di kepala untuk memastikan dia tewas," Santotome. Polisi menduga pemberontak Tentara Rakyat Baru (NPA) berada di belakang serangan di kota pegunungan La Castellana-- salah satu dari serangan-serangan paling keras tahun ini. Pemerintah mengharapkan perundingan perdamaian dimulai kembali dengan pemberontak, kendatipun mengumumkan gecatan senjata Natal dengan pemberontak, tetapi dalam pekan-pekan terakhir ini NPA meningkatkan serangan terhadap para pedagang di desa dan pasukan keamanan. Para pemimpin pemberontak mengundurkan diri dari perundingan perdamaian November 2011 setelah pemerintah menolak tuntutan-tuntutan mereka bagi pembebasan para rekan mereka yang mendekam di penjara yang mereka akui adalah para penasehat perundingan-perundingan itu. Kendatipun kedua pihak melakukan perundingan tingkat pejabat tinggi Desember lalu dan menyetujui senjata gencatan pada Natal, namun pertempuran dengan NPA--sayap militer pemberontak, terus berlangsung. Pemberontak komunis itu melakukan pemberontakan bersenjata untuk merebut kekuasaan sejak tahun 1969 dan lebih dari 30.000 orang tewas dalam konflik itu, kata pemerintah. Militer memperkirakan kekuatan NPA kini berjumlah sekitar 4.000 petempur, menurun tajam dari 26.000 orang pada puncaknya akhir tahun 1980-an. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026