Logo Header Antaranews Sumbar

Masyarakat Galugua Minta Bebaskan dari Keterisoliran

Kamis, 16 Juni 2016 18:25 WIB
Image Print

Sarilamak, (Antara Sumbar) - Masyarakat Nagari (desa adat) Galugua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, meminta pemerintah untuk membebaskan mereka dari keterisoliran.

"Berpuluh tahun, kami hidup dalam ketertinggalan. Semua fasilitas nyaris tidak memadai, mulai dari infrastuktur, sarana kesehatan, hingga sumber daya manusia. Sangat berharap pemerintah mendengar asipirasi kami," ujar Wali Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Syakban saat menerima Tim Safari Ramadhan Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu malam
Ia mengatakan, masyarakatnya menumpangkan harapan kepada pemerintah daerah agar dapat membebaskan dari keterisoliran dan ketertinggalan.

Syakban menyebutkan, selain buruknya akses jalan ke nagari yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Ibukota Kecamatan Kapur IX, mereka juga minim dari segi pelayanan kesehatan.

"Dari segi kesehatan, di Galugua kini baru memiliki satu Puskesmas Pembantu serta satu Pusat Kesehatan Nagari (Puskesri)," tambah dia.

Ia menyebutkan, dua pos kesehatan itu belum dilengkapi fasilitas serta tenaga medis yang memadai, mulai dari tenaga dokter, bidan, peralatan kesehatan, hingga mobiler seperti ambulan.

Sehingganya, ketika ada masyarakat yang sakit parah, mereka kerap kesulitan untuk mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang berada Muaro Paiti.

"Agar dapat dirujuk, warga yang sakit parah terpaksa menyewa mobil pribadi dengan ongkos mencapai jutaan rupiah," lanjut dia.

Kemudian, fasilitas pendidikan di nagari tersebut juga belum layak, salah satunya SDN 01 Galugua, yang hanya dilengkapi dua guru berstatus PNS.

"Selain itu, fasilitas ruangan kantor terpaksa dipakai sebagai tempat tinggal kepala sekolah," tambah dia.

Selain itu, nagari tersebut sebagian besar belum ada listrik, sehingga menjadi kendala masyarakat beraktifitas.

Ia menyebutkan, dari empat jorong yang ada di Nagari Galugua, baru Jorong Mongan yang dimasuki listrik, sementara Jorong Galugua, Kototangah, dan Tanjungjajaran belum masuk listrik.

"Untuk penerangan, warga masih memakai genset dan mesin diesel," kata dia.

Ia menambahkan, untuk jaringan seluler untuk alat berkomunikasi ke luar daerah, warga terpaksa mengakali memakai pemancar signal buatan atau juga mencari dataran tinggi seperti ke atas bukit.

Pihaknya mengapresiasi, adanya kemauan pemerintah daerah untuk berkunjung ke nagari yang berbatas langsung dengan Kabupaten Pasaman dan Provinsi Riau itu.

"Kami sudah membayangkan sulitnya medan yang Bapak-bapak tempuh, untuk dapat mencapai Galugua ini. Ini lah yang kami rasakan setiap hari," lanjut dia.

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan menjelaskan, pemerintah setempat tetap akan mendahulukan setiap kebutuhan prioritas dalam pembangunan ke depannya, terutama terhadap pelayanan masyarakat.

Untuk infrastuktur jalan ke Galugua, pihaknya bakal berupaya melobi anggaran di Provinsi dan Pusat, sebab saat ini terbatasnya APBD Limapuluh Kota, belum dapat diandalkan untuk membuat jalan dari Sialang ke Galugua.

Menurutnya, adanya program pusat, yakni perecepatan pembangunan desa menjadi peluang besar yang dapat dimanfaatkan pemnag Galugua, seperti melengkapi fasilitas serta kebutuhan masyarakat nagari.

"Program Desa, musti bermanfaat bagi masyarakat, terutama di daerah pinggir," tambahnya. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026