
Rhodamin B Terbanyak Digunakan Pedagang Takjil di Sumbar
Kamis, 9 Juni 2016 21:17 WIB

Padang, (Antara Sumbar) - Rhodamin B (zat pewarna) merupakan zat berbahaya yang paling banyak digunakan pedagang takjil (makanan untuk berbuka) di Sumatera Barat, berdasarkan hasil pemeriksaan mendadak Dinas Kesehatan provinsi itu bersama Balai Besar POM di Padang.
"Penggunaan Rhodamin B ini jelas terlihat dari warna makanan yang menyolok. Hampir di semua pusat penjualan takjil yang telah diperiksa di Payakumbuh, Solok dan Padang, kami menemukan zat berbahaya ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri di Padang, Kamis.
Menurutnya, efek buruk mengkonsumsi zat itu memang dirasakan setelah bertahun-tahun mengkonsumsi, setelah mengendap di tubuh.
"Memang tidak ada efek langsung. Tetapi, bukan berarti kita boleh membiarkan zat berbahaya ini beredar, terutama untuk dikonsumsi masyarakat luas," tambahnya.
Ia mengimbau agar pedagang tidak lagi menggunakan zat berbahaya itu dan beralih pada bahan yang lebih sehat.
"Kalau merujuk pada UU Kesehatan, penggunaan zat berbahaya ini sanksinya cukup berat, paling lama 5 tahun penjara atau denda Rp300 juta. Namun, kita yakin, pedagang di sini tidak memproduksi zat itu sendiri, tetapi membeli pula orang lain, karena itu kita mendukung agar sanksi awal adalah pembinaan," jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membeli makanan yang memiliki warna mencolok.
"Kalau tidak ada yang membeli, otomatis pedagang tidak akan menjual lagi," ujarnya.
Terkait antisipasi, Dinas Kesehatan Sumbar bersama instansi terkait menurutnya telah melakukan sosialisasi ke daerah-daerah, termasuk melakukan pemeriksaan mendadak terhadap makanan yang dijual pedagang.
"Kami berharap, masyarakat makin paham bahaya dari zat-zat ini," katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar POM Sumbar Zulkifli menyebutkan, pihaknya telah turun ke sejumlah lokasi sejak beberapa hari terakhir dan menemukan banyak takjil yang dijual menggunakan Rhodamin B dan Borak.
"Kalau untuk Rhodamin B sudah bisa dipastikan selain dengan kasat mata, kami juga membawa mobil yang dilengkapi peralatan labor penguji makanan dan minuman setiap kali turun ke lapangan," lanjutnya.
Namun, indikasi penggunaan borak menurutnya memang harus diteliti lebih jauh.
"Kadang boraks ini saat dites awal positif, tetapi setelah dilakukan tes lanjutan, bisa jadi negatif," katanya. (*)
Pewarta: Miko Elfisa
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
