Logo Header Antaranews Sumbar

Pariaman Pantau Harga Daging di Pasar Tradisional

Rabu, 18 Mei 2016 10:58 WIB
Image Print

Pariaman, (Antara) - Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat, akan memantau harga daging di sejumlah pasar tradisional setempat menjelang bulan Ramadhan 1437 Hijriyah.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Pariaman Gusniyetti Zaunit di Pariaman, Rabu, menyebutkan pemantauan ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tidak wajar oleh pedagang.

"Pemantauan harga memang terus kita lakukan pada hari biasa, baik sebelum masuknya Ramadhan maupun satu minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri untuk mencegah harga tidak wajar yang dapat merugikan konsumen," kata dia.

Selain mencegah terjadinya lonjakan harga, inspeksi mendadak juga akan dilakukan agar para pedagang tidak melakukan penimbunan kebutuhan pokok termasuk daging sapi.

"Kita khawatirkan ada pedagang yang dengan sengaja menimbun pasokan daging menjelang bulan Ramadhan," katanya.

Setiap tahunnya pemerintah juga selalu melakukan inspeksi mendadak ke pasar dengan melibatkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sumbar untuk menghindari peredaran makanan tidak layak konsumsi.

Pihaknya juga menjamin ketersediaan pasokan daging terpenuhi untuk Kota Pariaman, meskipun demikian dinas tersebut terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas Pertanian untuk mewaspadai lonjakan permintaan.

Sementara itu, Isaf (47) salah seorang pedagang daging di Pasar Kota Pariaman, mengatakan harga daging saat ini mencapai Rp120 ribu per kilogram.

"Hingga saat ini harganya masih stabil, namun demikian daya beli masyarakat masih rendah," kata dia.

Dikatakannya biasanya empat hari menjelang bulan Ramadhan harga daging cenderung mengalami kenaikan. Selain itu satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

"Bulan puasa tahun lalu awalnya harga daging sapi Rp110 ribu per kilogram, namun tiga hari menjelang puasa harganya naik Rp10 ribu sampai saat sekarang," katanya.

Dijelaskannya kenaikan harga daging tersebut tidak terlepas dari faktor tingginya permintaan konsumen dengan jumlah ketersediaan daging yang ada.

"Permintaan masyarakat menjelang puasa dan Hari Raya Idul Fitri tersebut memang meningkat, karena pada umumnya masyarakat di sini memasak gulai rendang makanan khas Minangkabau yang berbahan utama daging sapi dan kerbau," ujarnya.

Selain bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, permintaan daging oleh konsumen juga mengalami kenaikan terutama saat musim hajatan atau pesta pernikahan di masyarakat.

Pada hari biasanya pedagang daging hanya memotong dua ekor sapi, namun pada Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri pedagang setempat bisa memotong tiga hingga empat ekor sapi. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026