
Ketegangan Arab Saudi-Iran Diduga Berdampak Negatif Pada Konflik Suriah
Selasa, 5 Januari 2016 13:50 WIB

Damaskus, (Antara/Xinhua-OANA) - Meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan Iran sehubungan dengan hukuman mati tokoh Syiah terkenal di Arab Saudi dapat berdampak negatif pada upaya bagi proses perdamaian di Suriah, kata pengulas di Damaskus.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran telah kembali mencuat setelah Pemerintah Arab Saudi menghukum mati Sheikh Nimr Baqir An-Nimir, tokoh Syiah terkenal Arab Saudi, yang ditangkap dua tahun lalu dan divonis mati karena menyulut pembangkangan terhadap keluarga Kerajaan Arab Saudi.
Setelah pelaksanaan hukuman mati pekan lalu, pemrotes Iran menyerbu Kedutaan Besar Arab Saudi di Ibu Kota Iran, Teheran, dan menurunkan bendera Arab Saudi.
Hukuman mati atas An-Nimr juga menyulut gelombang pengutukan dan dukungan antara masyarakat Syiah dan Sunni di Timur Tengah, kondisi yang dikatakan banyak pengulas bisa membakar konflik besar Sunni-Syiah di wilayah tersebut.
Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan Arab Saudi akan menghadapi "pembalasan besar" karena menghukum mati An-Nimr, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. Ia menyebutnya "kejahatan yang sangat besar" dan "perbuatan keliru".
Selain itu, pemimpin kelompok Syiah Lebanon, Hizbullah, Sheikh Hassan Nasrallah juga mengecam Arab Saudi atas pelaksanaan hukuman mati tersebut. Ia mengatakan, "Lebih jelas dibandingkan kapan pun, Arab Saudi memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya kepada dunia.
Ketegangan antara Iran dan Arab Saudi bukan hanya bersifat kata-kata.
Setelah serangan terhadap kedutaan besarnya, Arab Saudi pada Ahad (3/1) mengumumkan Riyadh memutuskan hubungan diplimatik dengan Iran, tindakan yang dipandang oleh Teheran sebagai dalih Arab Saudi untuk memutuskan hubungan dalam krisis diplomatik yang dapat memperpanjang ketegangan antara kedua negara besar regional itu.
Bahrain, yang didukung Arab Saudi dan telah menghadapi aksi perlawanan dari penduduk minoritas Syiahnya --yang kebanyakan dipadamkan dengan bantuan Riyadh, juga mengikuti tindakan Arab Saudi, Manama pada Senin mengumumumkan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, tindakan lain yang dipandang oleh banyak pengamat sebagai menambah dalam ketegangan sektarian di wilayah tersebut.
Sudan, sekutu lain Riyadh, juga memutuskan hubungan dengan Iran, sementara Uni Emirat Arab menurunkan perwakilan diplomatiknya di Republik Islam Iran --yang berfaham Syiah.
Ketegangan itu, yang kebanyakan dilandasi oleh unek-unek lama antara kedua kekuatan regional tersebut, dapat berdampak negatif pada situasi di Suriah; Pemerintah Presiden Bashar al-Assad mendapat dukungan besar dari Iran, sementara hampir semua kelompok gerilyawan didukung oleh Arab Saudi dan negara lain Teluk.
Menteri Penerangan Suriah Omran Az-Zboubi pada Sabtu (2/1) mengatakan pelaksanaan hukuman mati An-Nimr tersebut adalah "suatu kejahatan dan pembunuhan kebebasan berbicara serta hak asasi manusia", demikian laporan kantor berita resmi Suriah, SANA.
Sementara itu, kelompok gerilyawan Tentara Suriah Bebas (FSA) mengatakan di dalam satu pernyataan pada Senin bahwa kelompok tersebut mendukung tindakan Arab Saudi dalam memutuskan hubungan dengan Iran. FSA menyatakan, "Dengan ancaman dari rejim Iran terhadap keamanan dan kestabilan di wilayah ini dengan mendukung kelompok Syiah di wilayah Arab termasuk pembunuhan ... (Bashar) al-Assad dan akhirnya mengeluarkan hasutan di Arab Saudi, keputusan untuk memutuskan hubungan adalah reaksi normal dan jelas terhadap tindakan semacam itu." (*)
Pewarta: Antara
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
