
BPS : Padang Kembali Deflasi Pada Oktober 2015
Senin, 2 November 2015 20:38 WIB

Padang, (Antara) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat Kota Padang kembali mengalami deflasi sebesar 0,44 persen pada Oktober 2015 setelah bulan sebelumnya juga mengalami hal yang sama 0,49 persen.
"Deflasi terjadi karena penurunan indeks pada tiga kelompok pengeluaran yaitu bahan makanan 2,12 persen, sandang 0,19 persen , kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,07 persen," kata Kepala BPS Sumbar Yomin Tofri di Padang, Senin.
Ia menjelaskan deflasi adalah suatu keadaan dimana harga-harga secara umum turun dan nilai uang bertambah.
Jika inflasi adalah keadaan yang terjadi akibat jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar, kata dia.
Yomin mengatakan komoditas yang turun harga antara lain cabai merah, beras, kangkung, bayam, daging ayam ras, kacang panjang, telur ayam ras, petai, emas perhiasan, dan beberapa lainnya.
Pada bagian lain beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Oktober 2015 di kota Padang antara lain bawang merah, upah tukang bukan mandor, tomat sayur, kentang, sate, wortel, tarif dokter umum, batu bata, batu tela, daun bawang, tomat buah, dan beberapa lainnya,
Ia menyampaikan pada Oktober 2015 dari dari 82 kota di Indonesia, 38 kota mengalami inflasi dan 44 kota mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,49 persen sedangkan inflasi terendah terjadi di Yogyakarta sebesar 0,01 persen, kata dia.
Sementara deflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,95 persen dan terendah terjadi di Padang Sidempuan sebesar 0,01 persen, lanjutnya.
Ia menyebutkan Padang menduduki urutan ke-13 dan kota Bukittinggi menduduki urutan ke-15 dari seluruh kota yang mengalami deflasi.
Sementara Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumbar memperkirakan inflasi di provinsi itu pada 2015 berada pada angka sekitar empat persen atau paling rendah dalam 10 tahun terakhir.
"Faktor utama turunnya inflasi di Sumbar adalah perlambatan ekonomi yang berdampak pada turunnya daya beli ," kata Kepala Perwakilan BI Sumbar Puji Atmoko.
Ia menyebutkan selama ini inflasi Sumbar selalu diatas 10 persen , pada 2011 tercatat 10,9 persen, 2014 11,58 persen dan merupakan angka tertinggi tingkat nasional.
Salah satu penyebab tingginya inflasi adalah gejolak harga cabai, beras , bawang merah hingga jengkol, ujar dia.
Ia mengatakan setelah melakukan sejumlah upaya untuk menekan angka inflasi diperkirakan pada 2015 merupakan sejarah baru di Sumbar dengan angka inflasi terendah.
Namun ia berharap angka inflasi juga tidak terlalu rendah karena akan berdampak kepada turunnya harga sehingga produsen menjadi rugi. (*)
Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
