
Sengketa Perbatasan Thailand-Kamboja Cetuskan Konflik Tentara-Baju Kuning

Bangkok, (ANTARA/Xinhua-0ANA) - Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah menyebabkan konflik antara tentara Thailand dan kelompok media nasionalis baju kuning. Pada Jumat malam dan Sabtu pagi, sekitar 50 perwira militer Thailand berkumpul di depan kantorr surat kabar ASTV-Manager untuk menunjukkan ketidaksetujuan kritik koran itu pada panglima militer Prayuth Chan-ocha atas wilayah perbatasan yang disengketakan sekitar kuil hindu kuno Preah Vihear. Para pengunjuk rasa meninggalkan secara damai setelah bergerombol selama sekitar satu jam. Thailand dan Kamboja dijadwalkan untuk memberikan pernyataan lisan mereka mengenai sengketa kepada Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, pada 15-19 April. Pada putusan tahun 1962, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa kuil itu milik Kamboja tetapi tidak ada keputusan atas 4,6 kilometer persegi tanah semak di sekitar kuil. Sengketa antara kedua negara meletus lagi tak lama setelah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO) menyetujui upaya Kamboja untuk memiliki status kuil itu sebagai Warisan Dunia pada tahun 2008. Aliansi Rakyat untuk Demokrasi juga dikenal sebagai baju kuning dan medianya - surat kabar ASTV-Manager dan saluran TV kabel - mendesak pemerintah untuk menentang ICJ, dan mengatakan vonis tersebut tidak memiliki legitimasi. Jenderal vokal Prayuth mengatakan, dia yakin Thailand harus menghormati putusan Mahkamah Internasional itu. Jenderal juga mengkritik surat kabar itu untuk selalu menargetkan dirinya. Surat kabar itu menanggapi pada Jumat dengan komentar membandingkan Jenderal Prayuth dengan seorang wanita yang marah pada orang lain secara acak selama periodenya. Pemimpin pengunjuk rasa Sersan Mayor Anuchit Silpawathee Jumat mengatakan pernyataan itu telah merusak moral tentara, kata surat kabar Bangkok Post. Pemimpin Pelaksana Kantor kelompok ASTV-Manager Jittanart Limthongkul mengatakan pada Sabtu bahwa pertemuan tentara ditujukan pada media yang mengintimidasi. Juru bicara militer Sansern Kaewkamnerd mengatakan kepada media bahwa Jenderal Prayuth telah memerintahkan semua tentara untuk menghentikan protes itu. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
