Logo Header Antaranews Sumbar

Mengembalikan Langit Biru Sumatera Barat

Rabu, 23 September 2015 12:55 WIB
Image Print
Pengendara melintas di antara kabut asap yang menyelimuti Kota Padang. (Foto Iggoy El Fitra)

Padang (Antara) - Empat pekan sudah Sumatera Barat diselimuti kabut asap membuat daerah itu ibarat provinsi tak berlangit karena sejauh batas mata memandang hanya terlihat kabut asap berwarna putih.

Pesona biru langit di siang hari kini tak lagi dapat dinikmati oleh warga karena pekatnya "jerebu" yang menyelimuti.

Jangankan langit, matahari saja hanya sesekali muncul saking pekat kabut asap sehingga terlihat kuning kemerahan saat siang.

Meski tidak separah provinsi tetangga seperti Riau dan Sumatera Selatan, tetap saja kabut asap mengganggu aktivitas warga.

Ketika pagi datang, warga yang bersiap keluar rumah menjalankan aktivitas akan menghirup aroma asap menyengat saat pintu rumah dibuka.

Jarak pandang yang terbatas hanya berkisar 1.000 meter hingga 2.000 meter juga membuat pengendara di jalan raya harus lebih hati-hati.

Apalagi pengendara motor di daerah pegunungan akan merasakan kepungan kabut asap lebih pekat, membuat tenggorokan kering dan mata perih jika tidak memakai pelindung.

Kabut asap kiriman juga telah menyebabkan kunjungan wisata turun karena pemandangan alam tak lagi memesona.

Kunjungan wisatawan ke objek wisata Ngarai Sianok di Bukittinggi, pun turun sejak daerah itu diselimuti kabut asap.

Biasanya jumlah kunjungan mencapai 800 orang pada hari libur dan akhir pekan, saat ini hanya sekitar 600 orang, kata Petugas Pengelola Objek Wisata Ngarai Sianok, Burhan.

Menurutnya, akibat kabut asap yang terjadi menyebabkan wisatawan enggan berkunjung karena pemandangan alam Ngarai Sianok yang terkenal dengan keindahannya tidak lagi dapat dinikmati.

"Pada hari biasa saja kunjungan dapat mencapai 400 orang, kini hanya 100 orang yang sebagian besar berasal dari Malaysia," kata dia.

Gafur salah seorang pengunjung asal Pekanbaru mengatakan akibat kabut asap Ngarai Sianok menjadi kurang menarik dikunjungi karena pemandangannya tertutup kabut.

"Kalau cuaca cerah pemandangan alamnya bagus, sekarang jadi tidak menarik karena terhalang kabut," ujar dia.

Ia juga mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan karena kualitas udara yang buruk.

"Berwisata di sini harus pakai masker, jadi orang lebih banyak memilih di penginapan," lanjutnya.

Kerugian Pariwisata
Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) menghitung kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera telah menimbulkan kerugian pada sektor pariwisata mencapai Rp5 miliar per hari.

"Jumlah kunjungan turis ke Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Sumbar yang dilanda kabut asap sekitar 5.000 orang setiap hari, kalau satu orang belanja Rp1 juta maka dunia pariwisata kehilangan uang Rp5 miliar per hari," kata Ketua Umum Asita Asnawi Bahar.

Menurutnya, jika kabut asap terjadi dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak luar biasa terutama pada sektor ekonomi kerakyatan dan usaha kecil dan menengah.

Oleh sebab itu, Asita minta pemerintah pusat serius menanggulangi kabut asap karena yang akan terdampak adalah rakyat kecil, ujar dia.

Asnawi mengatakan saat ini Asita sedang menyiasati agar rencana kunjungan wisatawan ke Sumatera yang batal akibat kabut asap dapat ditunda bukan dibatalkan.

Tentu saja ini akan menambah beban karena harus dilakukan penjadwalan ulang penginapan, restoran hingga pemandu wisata, katanya.

Ia menyampaikan industri pariwisata Sumatera terpukul akibat kabut asap dan khawatir target kunjungan 10 juta wisatawan mancanegara ke Tanah Air tahun ini tidak tercapai jika kabut asap berlangsung lama.

Tidak hanya itu, kata Asnawi, target kunjungan wisata domestik sebanyak 275 juta perjalanan juga akan sulit tercapai dalam kondisi seperti ini.

Ia meminta pemerintah pusat benar-benar serius menangani kabut asap karena jika berlangsung dalam jangka panjang akan menyebabkan kerugian bagi masyarakat.

Pemerintah harus mengawal pemadaman api yang menjadi sumber asap, tidak boleh setengah hati karena sudah 18 tahun hal ini terus berulang, ujar dia.

Aksi Protes
Menyikapi kabut asap yang terjadi kreator komik dari sejumlah daerah di Sumatera menggelar kampanye bahaya kabut asap melalui karya-karya komik yang ditampilkan pada akun jejaring sosial instagram.

"Ini digelar dalam rangka mengampanyekan bahaya kabut asap yang saat ini tengah melanda wilayah Sumatera," kata penggagas kegiatan Dhany Pramata.

Dalam rangka mengampanyekan bahaya asap tersebut puluhan kreator komik membuat cerita bertema bahaya kabut asap dan menampilkannya di instagram dengan tanda pagar masih melawan kabut asap.

Menurutnya, apa yang digagas merupakan gerakan masif sebagai bentuk perlawanan dan penyampaian aspirasi melalui kreativitas melalui komik.

"Ini dilakukan secara sukarela, hingga saat ini cukup banyak kreator komik yang ikut," ujar dia.

Dhany mengatakan saat ini hak untuk menghirup udara segar bagi masyarakat yang ada di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara telah dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Sampai kapan ini akan terus terjadi, mengapa selalu berulang setiap tahun," lanjutnya.

Sementara kreator komik asal Padang Iggoy mengatakan pesan yang ingin disampaikan mencintai alam karena selama ini salah satu penyebab kabut asap adalah ulah manusia yang merusak.

"Ini bencana serius dan pemerintah harus menyadari agar mengambil langkah sehingga tidak terulang setiap tahun," ujar dia.

Iggoy yang membuat komik Si Bujang membuat cerita tentang pemakaian masker dan imbauan untuk mencegah perilaku yang akan menimbulkan asap.

Ancaman ISPA
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Bencana Dinas Kesehatan Sumbar dr Irene mengatakan, pihaknya telah membuat edaran kepada kabupaten dan kota agar meningkatkan upaya pencegahan dampak buruk kabut asap, dengan memakai masker dan mengurangi kegiatan di luar ruangan.

"Masyarakat diimbau kurangi aktivitas di luar rumah, perbanyak konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh," kata dia.

Terkait kasus infeksi saluran pernafasan ia mengatakan pada pekan ke-34 mencapai 4.265 kasus, pekan ke-35 6.009 kasus dan pekan ke-36 3.220 kasus.

Ia mengatakan pihaknya selalu memantau kasus ISPA dan pada pekan ke-36 pada tingkat provinsi tidak terlihat peningkatan kasus.

Sementara Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melaporkan pembakaran hutan dan lahan si Sumatera masih berlangsung namun sudah jauh berkurang.

Ia mengatakan berdasarkan data pada 18 September terpantau 471 titik panas di Sumatera yang tersebar di Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Menurutnya, terjadi kebakaran besar di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin yang memproduksi kabut asap pekat sehingga kualitas udara menjadi tidak sehat.

Jangan Terulang
Anggota Komisi IV DPR RI Hermanto berharap pemberantasan kabut asap harus dilakukan serius tanpa menunggu penetapan status darurat.

Penanganan kabut asap di Riau yang harus menunggu ditetapkan status darurat sebetulnya sudah terlambat karena telah mengganggu kehidupan masyarakat, kata dia.

Hermanto menilai kabut asap selalu berulang setiap tahun karena pemerintah dinilai belum serius menangani dan melakukan langkah antisipasi.

"Menteri Dalam Negeri mestinya mengeluarkan radiogram yang memerintahkan gubernur untuk mengeluarkan kebijakan mengantisipasi dan menangani kebakaran lahan, ujar dia.

Menurutnya, ke depan harus cukup regulasi yang memungkinkan keseriusan dalam mencegah kebakaran lahan dan hutan.
Ada banyak fasilitas yang dapat digunakan mencegah dan mengatasi kebakaran lahan dan hutan, seperti tim pemadam api Manggala Agni, teknologi rekayasa hujan, bom air serta armada pesawat pemadam kebakaran yang terdiri dari tujuh Hercules C-130, CN-235 dan CN-295 serta ribuan satuan tugas pemadam kebakaran, kata dia.

"Selain itu Kemendagri punya struktur sampai ke kepala desa, Polri punya Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas), TNI punya Bintara Pembina Desa (Babinsa)," lanjutnya.

Ia menyampaikan aparatur yang ada di lapangan dapat menjadi informan terhadap keberadaan titik-titik api di wilayah tugasnya.
Dari informasi yang diberikan mereka tersebut kemudian dapat diambil langkah cepat untuk memadamkan, jika titik-titik api yang kecil tentu jauh lebih mudah dipadamkan ketimbang kebakaran yang telah meluas, ujar dia.

Agaknya pemerintah dan semua pihak perlu mengambil pelajaran dari setiap kejadian kebakaran hutan dan lahan agar tidak terus terulang seakan tidak berdaya mencegahnya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026