
TV: Partai AKP Turki Bisa Kehilangan Mayoritas di Parlemen
Senin, 8 Juni 2015 09:47 WIB

Ankara, (Antara/Xinhua-OANA) - Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki telah meraih kemenangan dalam pemilihan anggota parlemen tapi bisa kehilangan mayoritasnya sebab partai yang berkuasa tersebut mengumpulkan lebih sedikit suara dibandingkan dengan empat tahun lalu.
Dengan 90 persen suara dihitung, AKP telah mengantungi 41,48 persen suara, sedangkan oposisi utama Patrai Rakya Republik (CHP) meraih 25,28 persen, oposisi Partai Gerakan Nasionalis (MHP) mengumpulkan 16,72 persen, dan Partai Demokratik Rakyat (HDP), yang pro-Kurdi, mendapat 11,97 persen.
"Keputusan bangsa ini benar," kata Perdana Menteri Ahmet Davutoglu dalam pernyataan pertamanya di Provinsi Konya setelah pemungutan suara pada Ahad (7/6).
Hasil tersebut akan memberi AKP kemenangan keempat berturut-turut dalam pemilihan umum sejak partai itu memangku jabatan pada 2002. Dalam pemilihan umum 2011, partai tersebut meraih 49,83 persen suara.
Namun dalam pemilihan umum Ahad, pemberi suara di Turki dipandang memilih untuk menghukum AKP, dengan melucuti kursinya di parlemen sehingga partai itu tak bisa membentuk pemerintah satu partai, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin pagi. AKP dipandang gagal mempertahankan dukungan kuat rakyat dalam apa yang digambarkan sebagai pemilihan umum paling kritis buat Turki, kendati AKP tetap menjadi partai nomor satu.
Parta yang memerintah tersebut mengalami pukulan setelah diluncurkan pemeriksaan korupsi tingkat tinggi yang melibatkan beberapa pejabat senior pemerintah sejak Desember 2013.
Meningkatknya musuh ekonomi seperti peningkatan pengangguran, inflasi, pertumbuhan yang rendah, utang kredit yang meluas di kalangan nasabah telah memukul popularitas AKP.
Keteganan telah meningkat sepanjan masa kampanye, sementara partai oposisi bersiaga mengenai kemungkinan penyimpangan dan upaya kecurangan.
AKP mengumpulkan sebanyak 261 kursi di parlemen, turun dari 326 kursi yang diperolehnya dalam pemilihan umum sebelumnya, dan saat ini menduduki 311 kursi di parlemen.
AKP memerlukan sedikitnya 276 kursi untuk membentuk pemerintah satu-partai. Itu berarti pemerintah koalisi tampaknya, atau pemerintah minoritas, akan memimpin negeri tersebut menuju pemilihan umum dini dalam waktu singkat.
CHP diperkirakan memperoleh sebanyak 130 kursi di parlemen dengan 550 anggota. Partai itu meraih 135 kursi dalam pemilihan umum 2011, dengan mengantungi 25,98 persen suara. Saat ini CHP menduduki 125 kursi di parlemen.
Pembagian p asti kursi akan ditetapkan ketika semua suara dari luar negeri ditambahkan pada hasil akhir. Tak ada calon independen yang bisa terpilih.
Pemungutan suara itu, kendati diselenggarakan untuk menentukan anggota parlemen, telah dipandang banyak kalangan sebagai referendum mengenai kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang ingin negeri tersebut bergerak dari sistem parlementer ke sistem eksekutif.
Erdogan, yang juga mantan ketua AKP, berusaha meraih mayoritas dua-pertiga kursi di parlemen sehingga ia dapat mengalihkan negeri itu ke sistem yang diiinginya, tapi sejauh ini belum ada hasil resmi yang menunjukkan ia harus membatalkan rencananya.
Lebih dari 53,7 juta pemilih Turki memberi suara mereka buat pemilihan penting anggota parlemen, dengan 20 partai politik bersaing untuk memperebutkan 550 kursi di parlemen.
Untuk memiliki cukup kekuatan baik untuk mengubah undang-undang dasar maupun menggelar referendum, AKP harus memiliki sedikitnya 330 kursi dari seluruh 550 anggota parlemen.
Turki diperintah oleh sistem parlemen sejak menjadi republik pada 1924. Peran presiden kebanyakan bersifat simbolis sampai masa jabatan Presiden Erdogan dimulai setahun lalu.
Pengamanan ketat dilakukan di Turki pada hari pemungutan suara, dengan lebih dari 400.000 polisi dan personel jagabaya dikerahkan guna menjamin keamanan, demikian laporan media lokal. (*)
Pewarta: Antara
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
