Logo Header Antaranews Sumbar

Turki Cabut Pencekalan Ribuan Buku

Minggu, 6 Januari 2013 19:18 WIB
Image Print

Istanbul (ANTARA/AFP) - Berkat komitmen pemerintah reformasi, Turki mencabut ribuan judul buku yang selama beberapa dasawarsa masuk dalam daftar buku-buku terlarang di negeri itu, mulai dari buku karya para penulis komunis hingga buku-buku komik. Pada bulan Juli, parlemen mengadopsi rancangan Undang-Undang yang menyatakan bahwa keputusan apapun yang diambil sebelum 2012 untuk memblokir penjualan dan distribusi karya akan tidak berlaku jika pengadilan tidak memilih untuk mengkonfirmasi kembali keputusan tersebut dalam waktu enam bulan. Batas waktu itu berlaku pada Sabtu dan tidak ada keputusan pengadilan seperti itu yang dibuat, kata kepala serikat penerbit Turki TYB, Metin Celal Zeynioglu. "Semua larangan yang diperintahkan oleh (pengadilan di ibu kota) Ankara akan dicabut pada 5 Januari," menurut konfirmasi jaksa kota Kursat Kayral. Kayral telah mengumumkan bulan lalu bahwa ia akan membiarkan berlalu setiap larangan dalam wilayah yurisdiksi, sebuah keputusan yang akan mencabut pelarangan sekitar 453 buku dan 645 majalah di daerah itu saja. Di antara buku-buku itu adalah beberapa karya komunis seperti "Manifesto Komunis" yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, serta tulisan karya tiran Soviet Joseph Stalin dan pemimpin revolusioner Rusia Vladimir Lenin. Beberapa yang lain adalah buku komik, atlas, sebuah laporan tentang keadaan perlindungan hak hak manusia di Turki dan sebuah esai tentang Kurdi. Tapi buku-buku di bawah yurisdiksi Kayral itu hanyalah sebagian kecil dari semua judul buku yang berada dalam daftar terlarang, yang totalnya mencapai 23 ribu menurut Zeynioglu, yang mengaku mengetahui jumlah itu dari kementerian kehakiman. Kementerian Kehakiman tidak segera mengkonfirmasikan jumlah total buku yang dilarang sehingga jumlah yang disebutkan oleh Zeynioglu sulit untuk dibuktikan akurasinya. "Larangan ini tidak diimplementasikan secara terpusat, mereka dibuat oleh lembaga yang berbeda di kota yang berbeda pada waktu yang berbeda," katanya. "Selain itu, sebagian besar telah dilupakan selama bertahun-tahun dan penerbit telah kembali mencetak buku yang dilarang. " Sebagai contoh, karya lengkap penyair Turki Nazim Hikmet, yang meninggal di pengasingan di Moskow pada tahun 1963, sudah beredar di perpustakaan selama bertahun-tahun meskipun ada larangan tersebut. Reformasi tersebut sebagian besar adalah simbolis, dan beberapa pihak skeptis apakah hal itu mencerminkan perubahan sejati di negara Turki. "Pola pikir tidak berubah dan orang-orang (dalam pemerintahan) akan terus melakukan apa yang mereka anggap benar, "kata Omer Faruk, mantan kepala rumah penerbitan Ayrinti. Ia mencontohkan sebagai contoh nasib salah satu bukunya yaitu"Filosofi di Kamar Tidur" karya penulis Perancis Marquis de Sade. Dianggap tidak bermoral, buku itu dilarang, namun Mahkamah Agung membatalkan keputusan itu. Namun "meskipun ada keputusan itu, buku ini tetap disita", kata Faruk. Skeptisisme itu diperkuat oleh akar Islam catatan Partai Pembangunan dan Keadilan yang memerintah dalam hal kebebasan berbicara. Komite untuk Melindungi Wartawan mengatakan bulan lalu bahwa Turki memiliki, sekitar 49 orang, jumlah tertinggi wartawan yang berada di balik jeruji besi (penjara), dengan sebagian besar dari mereka orang Kurdi. Pada akhir November, Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan sendiri mengambilalih tugas direktur dari serial televisi dengan menyatakan bahwa naskah mereka berkonflik dengan sejarah dan moral Islam. "Mereka yang bermain dengan nilai-nilai masyarakat harus diberi pelajaran," kata Erdogan. Meski pesimisme itu, Zeynioglu mengatakan akan ada setidaknya satu hal nyata yang dapat dihasilkan dari penghapusan larangan itu. "Banyak mahasiswa yang ditangkap dalam demonstrasi dan dipenjara karena menyimpan buku yang dilarang, "katanya. "Mulai sekarang, kita tidak akan dapat menggunakan itu sebagai alasan." (*/wij)



Pewarta:
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026