
Kolombia Cabut Gencatan Senjata dengan Farc

Bogota, (Antara/Xinhua-OANA) - Presiden Kolombia Juan Manuel Santos pada Rabu (15/4) mencabut penghentian serangan udara terhadap kubu pemberontak sayap-kiri, setelah anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) diduga menyergap dan membunuh 11 prajurit pemerintah. Jaringan berita terkemuka di Kolombia, Caracol, melaporkan presiden Santos "mencabut perintah untuk menghentikan pemboman oleh Angkatan Bersenjata terhadap kamp FARC". Pemerintah mengumumkan penghentian sementara serangan udara pada Maret. Ketegangan baru itu terjadi setelah kelompok pemerbontak tersebut dilaporkan menyerang satu patroli militer di Departemen Cauca di bagian barat-daya negeri itu pada Selasa lalu (14/4). "FARC dengan sengaja melanggar janji mereka mengenai gencatan senjata sepihak," kata Santos di akun Twitternya, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. "Kami menolak dan mengutuk perbuatan jahat ini terhadap tentara kami." Santos mengunjungi lokasi serangan di Cali, Cauca, untuk mengdakan pertemuan darurat dengan Menteri Pertahanan Juan Carlos Pinzon, para komandan Angkatan Darat dan pejabat setempat. Komandan Divisi Ketiga Angkatan Darat Mario Valencia dijadwalkan memberikan penjelasan terperinci mengenai peristiwa tersebut dan mengevaluasi apakah aman buat Santos untuk pergi ke Buenos Aires, kota kecil tempat prajurit itu disergap di tengah hujan lebat. Menurut Angkatan Darat, tentara tersebut sedang berpatroli di daerah itu ketika mereka diserang dengan granat dan tembakan senjata api oleh anggota FARC. Sebanyak 10 prajurit mulanya dilaporkan tewas, dan sembilan lagi cedera, tapi jumlah korban jiwa belakangan diubah jadi 11. FARC mengumumkan gencatan senjata sepihak pada November. Kelompok pemberontak Kolombia tersebut mengatakan ingin memperlihatkan itikad baik sementara pembicaraan perdamaian berlangsung dengan pemerintah guna mengakhiri lima dasawarsa pertempuran. Pemerintah mulanya menolak untuk melakukan tindakan yang sama, dan menyatakan berkecamuknya pertempuran akan mengangkat tekanan atas pemberontak untuk berunding. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
