Logo Header Antaranews Sumbar

Pejabat AU-PBB Bahas Tantangan Keamanan di Afrika

Jumat, 13 Maret 2015 09:16 WIB
Image Print

Addis Ababa, (Antara/Xinhua-OANA) - Pejabat dari Dewan Keamanan dan Perdamaian Uni Afrika (AUPSC) dan Dewan Keamanan PBB (UNSC) pada Kamis (12/3) mengadakan pertemuan tahunan di Ibu Kota Ethiopia, Addis Ababa, guna membahas tantangan keamanan yang dihadapi oleh Afrika. Pertemuan setengah hari tersebut dipusatkan pada situasi di Wilayah Danau Raya, Republik Afrika Tengah (CAR), Mali dan Sahel,Libya, Sudan Selatan, Somalia, Darfur dan masalah yang berkaitan dengan perang melawan kelompok fanatik Boko Haram. Haile Menkerios, Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB, mengatakan pemerintahan yang buruk adalah akar dari ketidak-amanan di benua tersebut. "Aksi militer mesti dipadukan dengan proses politik yang layak dan kita mesti lebih dulu melakukan tindakan guna mencegah krisis akibat meningkatnya kerusuhan," kata Menkerios, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi. Pejabat PBB itu menyampaikan kekecewaan akibat kurangnya kemajuan dalam proses perdamaian di Sudan Selatan, dan menambahkan PBB dalam beberapa pekan ke depan akan memperkuat upaya penengahan bersama dengan Lembaga Antar-Pemerintah mengenai Pembangunan (IDAG) di Afrika Timur. Sehubungan dengan tindakan untuk menghadapi Boko Haram, Menkerios mengatakan ia merasa besar hati oleh kemajuan yang dicapai oleh anggota Komisi Cekungan Danau Chad dan Benin, dengan dukungan AU dan PBB, ke arah terbentuknya pasukan tugas khusus multinasional. Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian pada Rabu (11/3) mengatakan kementeriannya akan menambah jumlah tentara Prancis di Afrika Barat guna mendukung pasukan regional dalam perang mereka melawan Boko Haram, yang berpusat di Nigeria. Melalui kemitraan dengan lima negara di Wilayah Sahel-Sahara, Prancis mengirim satu kontingen yang terdiri atas 3.000 prajurit pada Juli 2014 ke Wilayah Sahel guna memerangi gerilyawan fanatik. Pada Senin (9/3), serangan militer yang dilancarkan pasukan Chad dan Niger telah menewaskan sebanyak 200 petempur Boko Haram. Militer kedua negara itu merebut kembali kota Damasak di bagian timur-laut Nigeria, kata satu sumber keamanan Chad. Petempur Boko Haram telah menguasai kota di dekat perbatasan Niger itu sejak November. Sebanyak 10 prajurit Chad gugur dan 20 lagi cedera dalam serangan yang mulai dilancarkan pada Ahad (8/3), kata sumber tersebut. Seorang pejabat Niger di Diffa, yang berada di seberang perbatasan dari Damasak, mengkonfirmasi bahwa kota tersebut telah direbut kembali setelah pertempuran yang berlangsung sengit. Serangan itu, yang diikuti penambahan pasukan di bagian selatan Niger, membuka satu front baru dalam usaha regional guna mengusir kelompok garis keras tersebut, yang aksinya selama enam tahun telah meluas sampai ke seberang perbatasan Nigeria. "Namun, reaksi militer harus menjadi bagian dari seluruh strategi regional banyak bidang yang menanggulangi penyebab utama perlawanan," Haile Menkerios menambahkan. AUPSC dan UNSC mengadakan pertemuan konsultasi pertama mereka pada 2007 di Ibu Kota Ethiopia, Addis Ababa. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026