Logo Header Antaranews Sumbar

Australia Larang Warganya ke Mosul

Senin, 2 Maret 2015 13:13 WIB
Image Print

Sydney, (Antara/Reuters)- Australia hari Senin mengumumkan pelarangan bagi warganya untuk bepergian ke Mosul di Irak bagian utara, dalam upaya memerangi keadaan yang disebut pemerintah radikalisme yang meningkat di kalangan anak muda Muslim Australia. Sebagian anak muda itu ikut berjuang bersama kelompok-kelompok fanatik di luar negeri. Pengumuman oleh Menteri Luar Negeri Julie Bishop disampaikan menjelang rencana serangan yang paling cepat akan dilakukan sekitar Arpil atau Mei, untuk merebut kembali Mosul oleh kontingen beranggotakan sekitar 20 hingga 25 ribu pasukan Irak dan Kurdi yang dilatih Amerika Serikat. Australia sudah dua kali ini memakai Undang-Undang baru yang keras untuk melarang warganya melakukan perjalanan ke negara tertentu, setelah sebelumnya melarang perjalanan ke Provinsi Raqqa di Suriah, yaitu tempat strategis bagi Negara Islam. "Pemerintah mempertimbangkan untuk menghentikan warganya bergabung dengan teroris yang berseteru di Irak dan Suriah dan juga melarang dukungan bagi organisasi teroris," kata Bishop. Bulan lalu Pentagon mengatakan telah mengirim 10 ribu senapan M-16 dan pasokan militer lainnya yang bernilai 17,9 juta dolar ke Irak dan pasukan AS melatih serta memasok pasukan keamanan Irak dalam memerangi petempur IS. Kelompok fanatik IS baru-baru ini mempertontonkan gambar video saat menghancurkan benda-benda kuno yang tak ternilai harganya di Mosul, menggunakan palu godam dan bor untuk meremukkan patung-patung dan seni pahat berumur 3.000 tahun. Dalam peraturan keamanan baru dan ketat yang dimenangkan oleh PM Tony Abbott dari Konservatif, warga Australia dapat menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun bila bepergian ke negara yang sudah dinyatakan terlarang. Langkah tersebut untuk mencegah secara luas keadaan yang menurut Abbot berupa ancaman meningkatnya radikalisme yang meningkat di kalangan sebagian warga yang berniat berjuang ke luar negeri bersama kelompok Islam fanatik seperti Negara Islam atau kelompok-kelompok di bawah jaringab Al Qaida. Pada September Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengharapkan agar semua negara menangani dengan sungguh-sungguh kejahatan yang dilakukan oleh warganya yang pergi ke luar negeri untuk bergabung dengan kelompok-kelompok fanatik, atau merekrut dan mendanai kegiatan mereka, dalam langkah yang dipicu oleh bangkitnya IS. Pengamat keamanan menilai para petempur asing yang berjuang di Irak dan Suriah berdatangan dari sejumlah negara di seluruh dunia dan jumlahnya mencapai ribuan orang. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026