Logo Header Antaranews Sumbar

Ketua DPD: Indonesia Optimistis Hadapi Masa Depan

Senin, 19 Januari 2015 06:40 WIB
Image Print
Irman Gusman

Tasikmalaya, (Antara) - Ketua DPD RI Irman Gusman mengajak bangsa Indonesia untuk bersikap optimistis dalam menghadapi masa depan, dengan selalu menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan materi dan iman dalam kehidupan. "Dalam kehidupan harus selalu ada keseimbangan, antara materi keduniawian dan keimanan," kata Irman Gusman ketika memberikan sambutan pada acara Khataman Akbar Thoriqoh Qhodiriyah Wanaqsabandiyah di Pondok Pesantren Cikawung Luwuk, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (18/1) malam. Acara khataman akbar tersebut dihadiri ratusan hadirin, meliputi para guru, ustadz, santri, serta masyarakat sekitar. Hadir juga pada acara tersebut, tiga di antara empat anggota DPD RI dari Jawa Barat, yakni Aceng Fikri, Ony Suarman, dan Eni Sumarni. Pada kesempatan tersebut, Irman mengajak bangsa Indonesia untuk selalu meningkatkan keimanan, ketaqwaan, serta meningkatkan ilmu pengetahuan sehingga dapat menimbulkan percaya diri dan kebahagiaan yang sebenarnya. Menurut dia, jika mencermati kondisi saat ini banyak orang hidup dengan gaya hedonisme dan mengutamakan keduniawian. Ia menilai kekayaan materi keduniawian belum tentu memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. "Dalam ajaran Islam, umat manusia harus memiliki keseimbangan, antara dunia dan akhirat," katanya. Irman juga melihat ada yang keliru dalam pembangunan manusia di negara-negara maju, seperti Amerika, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. "Banyak kemajuan yang hadir tapi di balik itu, mereka belum mencapai kebahagiaan hidup yang sesungguhnya," katanya. Irman juga menceritakan ketika dirinya mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi tamu kehormatan Kerajaan Inggris. Pada saat itu, Perdana Menteri Inggris mengakui bahwa kemajuan yang dicapai Inggris adalah kemajuan duniawi dan masih ada ketidakbahagiaan. "Mengambil hikmah dari negara-negara maju, kemajuan duniawi tanpa diiisi dengan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan, maka tetap ada ketidakbahagiaan," katanya. Irman juga menyoroti aktivitas masyarakat di negara-negara maju, umumnya pekerja keras yang tanpa disadari mengorbankan kehidupan rumah tangga. Hal ini, kata dia, dapat berdampak pada perceraian, anak-anak bersikap materialistis, dan bahkan terjadi bunuh diri. Irman mengajak bangsa Indonesia untuk untuk terus meningkatkan keiamanan, ketaqwaan, dan ilmu pengehuan sehingga bangsa Indonesia akan diperhitungkan di dunia internasional. "Bangsa Indonesia patut berbangga karena diperhitungkan negara lain, tapi bukan berarti jadi menyombongkan diri," katanya. Kebanggaan tersebut, kata dia, karena ada negara-negara maju yang memperhitungkan pembangunan nilai-nilai spiritual sehingga ada keseimbangan pada bangsa Indonesia. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026