
BKPM Yakin Layanan Satu Pintu Dongkrak Investasi

Jakarta, (Antara) - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani meyakini layanan perizinan Pelayanan Terpadu Satu Pintu bisa mendorong investor masuk sehingga bisa mendongkrak investasi ke Indonesia. "Kalau mereka (investor) tahu ada satu pintu, wah rasanya seperti surga karena selama ini enggak seperti itu," kata Franky di Jakarta, Kamis. Sebagai pengusaha, ia yakin proses pelayanan perizinan investasi dalam satu pintu akan memudahkan investor. "Investor akan dipermudah dari sisi layanan perizinan dengan cukup datang ke BKPM dan tidak lagi mengelilingi Jakarta untuk mendatangi berbagai kementerian/lembaga. Cukup datang ke BKPM saja," katanya. Franky meyakini pemberlakuan sistem PTSP Pusat akan membuat banyak investor dan lebih berani berinvestasi di Indonesia. Namun, yang terpenting bagaimana lembaga tersebut bisa terus melakukan perbaikan terutama soal kecepatan proses perizinan yang selama ini memakan waktu lama. "Pekerjaan rumahnya ini bagaimana kami melakukan perbaikan ke depan soal regulasi lain yang nonperizinan. Juga soal ketetapan tenggat waktu atau standar operasional prosedur (SOP) untuk menyelesaikan perizinan," katanya. Semua itu penting agar target realisasi investasi tahun ini bisa tercapai dengan peningkatan 14 persen hingga di atas Rp520 triliun. Franky menuturkan sudah ada sejumlah investor di beberapa sektor yang berminat untuk melakukan pengembangan di Indonesia. Khusus untuk sektor petrokimia dan kelistrikan, sejumlah investor yang tengah mengajukan perizinan adalah perusahaan yang sebelumnya telah berinvestasi (eksisting). "Kalau di bidang kelistrikan itu ada Sumitomo dan beberapa investor Tiongkok eksisting yang mau masuk. Investor dalam negeri juga banyak yang ingin berekspansi," kata Franky menambahkan pihaknya kini fokus mendorong perusahaan eksisting untuk berekspansi karena sudah tahu kondisi dan teruji. Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM Himawan Hariyoga sebelumnya mengatakan ada dua investor asing di bidang petrokimia yang tengah mengajukan investasi perluasan usaha. Sayangnya, ia enggan menyebutkan nama investor dan lokasi investasi yang diincar. "Perusahaan pertama itu mengajukan komitmen 240 juta dolar AS untuk perluasan sementara perusahaan satunya mengajukan komitmen 740 juta dolar AS untuk naphta," katanya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
