
Apindo: Kebijakan Penurunan Harga BBM Cukup Tepat

Kupang, (Antara) - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) wilayah Nusa Tenggara Timur Fredy Ongko Saputra mengatakan kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsudi pada awal tahun ini merupakan sebuah tindakan yang cukup tepat. "Penurunan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar itu merupakan bagian dari kebijakan makro dan mikro ekonomi 2015. Kami sebagai pelaku usaha, memandang kebijakan tersebut (penurunan harga BBM, red) merupakan sebuah bentuk tindakan yang cukup tepat," katanya di Kupang, Sabtu. Ia menjelaskan Apindo NTT menilai kebijakan tersebut cukup tepat karena tindakan untuk menurunkan harga BBM merupakan sebuah langkah positif untuk menciptakan stabilisasi perekonomian nasional yang sempat guncang akibat kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Fredy mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo tentunya sudah mengkaji dan mempertimbangkannya secara matang dalam mengambil kebijakan tersebut. "Saya kira dalam konteks penghapusan BBM jenis premium banyak dikonsumsi oleh kalangan ekonomi menengah ke atas yang dikategorikan mampu dalam hal perekonomian, sehingga apabila subsidinya dihapus wajar saja," katanya. Namun, katanya, tidak seperti halnya BBM jenis solar yang banyak dikonsumsi oleh kalangan kecil bahkan termasuk mereka yang miskin, seperti nelayan tradisonal dan pengusaha atau pedagang kaki lima sehingga jika masih diberi subsidi dipandang tepat. Ia menambahkan sekitar 250 pengusaha setempat jauh sebelum kenaikan harga BBM sudah menangkal dan mensiasati dampak yang akan terjadi dengan meningkatkan kualitas produk. "Para pengusaha di daerah berbasiskan kepulauan itu telah memasang strategi-strategi baru sebelum rencana kenaikan BBM itu terwujud untuk tetap menjaga stabilitas perusahaan di antaranya menjaga dan meningkatkan kualitas produk yang dijual di pasaran agar tetap diminati konsumen," katanya. Selain meningkatkan kualitas produk, tambahnya, pengusaha juga perlu memperkuat "brand" produk untuk menjaga loyalitas konsumen. Ia berpendapat akan lebih baik jika subsidi BBM itu dialihkan ke sektor lain seperti infrastruktur sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia yakin, perbaikan infrastruktur pada akhirnya akan juga meningkatkan daya saing ekonomi sehingga pengusaha bisa lebih efisien untuk memangkas ongkos transportasi. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
