
Iran Kutuk Penyerangan Charlie Hebdo, Tapi Kecam Kartun

Teheran, (Antara-AFP) - Iran mengutuk pembunuhan 12 orang di majalah satir Prancis pada Rabu tapi menegaskan kecaman atas penyiaran kartun Nabi Muhammad di mingguan itu pada 2006. "Semua teror terhadap orang tak bersalah adalah menyalahi hukum dan ajaran Islam," kata wanita juru bicara kementerian luar negeri Marzieh Afkham kepada kantor berita resmi IRNA. Ia menyatakan serangan seperti terhadap "Charlie Hebdo" adalah bagian dari "gelombang radikalisme", yang menyebar di seluruh dunia dalam dasawarsa belakangan, yang dipicu sebagian oleh kebijakan buruk dan baku ganda dalam menangani kekerasan dan ekstremisme. Ia mengulangi kecaman Iran atas keputusan majalah itu mencetak ulang 12 kartun Muhammad, yang diterbitkan surat kabar Denmark "Jyllands-Posten" dalam pernyataan untuk kebebasan menyatakan pendapat. Kartun itu, termasuk yang menggambarkan sorban sebagai bom, memicu kemarahan di Iran serta negara Muslim. "Memanfaatkan kebebasan menyataka pendapat untuk mempermalukan agama bertuhan tunggal dan nilai serta lambangnya tidak dapat diterima," kata Afkham. Sementara itu, Paus Fransiskus menyatakan keji dan mengutuk serangan pada Rabu di Paris, dengan menyeru semua orang menghentikan penyebaran kebencian. "Bapa Suci mengungkapkan kecaman kerasnya atas serangan mengerikan itu," kata pernyataan kepala juru bicara Vatikan Romo Federico Lombardi tentang serangan menewaskan 12 orang terhadap kantor majalah mingguan satir terkenal, yang mengejek Islam. Fransiskus menyeru semua orang menentang setiap cara menyebarkan kebencian, karena sangat merusak dasar hidup berdampingan secara damai selain kebangsaan, perbedaan agama dan kebudayaan. Turki juga mengutuk keras "serangan teroris", yang menewaskan 12 tewas di mingguan satir Prancis, tapi menyatakan Eropa juga harus melawan ketakutan akan Islam, yang kian meningkat. "Kami mengucapkan belasungkawa kepada Prancis, teman dan sekutu kami pada hari sedih ini," kata Presiden Recep Tayyip Erdogan, dengan menambahkan bahwa ia berharap kelompok bersenjata di balik serangan itu diadili sesegera mungkin. Dalam pernyataan, ia mendesak dunia bangkit melawan teror seperti di Prancis, terhadap ketegangan akibat sikap tak menenggang keragaman. Pemimpin Turki itu secara tetap mencela yang ia lihat sebagai kebangkitan ketakutan akan Islam di Eropa, dengan menyebut kecenderungan tersebut ancaman besar seperti yang terjadi pada Selasa tersebut. Perdana Menteri Ahmet Davutoglu menyatakan tidak ada hubungan Islam dengan kekerasan saat ia mengutuk serangan "teroris" di majalah "Charlie Hebdo" itu, yang bertahun-tahun bertikai dengan umat Islam, yang menuduhnya menyerang agama mereka. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan terorisme dan peningkatkan takut Islam di Eropa saling berhubungan. "Kita harus melawan peningkatan rasisme, xenofobia dan Islamofobia di Eropa, yang mengancam semua nilai kita. Kita juga harus berjuang melawan segala bentuk terorisme," kata Cavusoglu kepada wartawan di Ankara. Menteri itu menyatakan Islam adalah agama damai, dengan menambahkan, "Bukanlah pendekatan tepat mengaitkan Islam dengan terorisme." (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
