
Pakar: Inflasi Sumbar Tidak Perlu Ditakuti

Padang, (Antara) - Inflasi di Sumatera Barat (Sumbar) bukanlah sebuah fenomena moneter seperti di daerah lain, sehingga tidak perlu ditakuti, kata Guru Besar Ekonomi Unand, Syafruddin Karimi. "Dimana-mana, yang namanya inflasi itu adalah sebuah fenomena moneter yang patut diwaspadai, tetapi di Sumatera Barat, inflasi itu lebih kepada fenomena sektor riil dan tidak perlu terlalu ditakuti,"kata dia di Padang, Kamis. Menurut dia, faktor penyumbang terbesar bagi angka inflasi di Sumbar adalah komoditi pertanian terutama beras dan cabe. "Bagi komoditi ini tentu bisa didorong peningkatan produksi, terutama cabe karena menurut data, cabe yang ada di Sumbar ini bukan produksi lokal, tetapi berasal dari Jawa," kata dia. Dia mengatakan, jika produksi cabe daerah ditingkatkan, akan bisa berpengaruh positif terhadap perekonomian Sumbar terutama pada turunnya angka inflasi. Selain itu dia mengatakan, harus ada terobosan lain yang dilakukan oleh penentu kebijakan untuk mengembangkan prekonomian Sumbar. Sebelumnya, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, inflasi di Sumatera Barat terjadi karena ulah sebagian pedagang yang menjual produk pertanian seperti beras dan cabe keluar daerah. "Padahal kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan produksi pertanian di Sumatera Barat. Program yang kita lakukan itupun telah memberikan hasil karena menurut data yang ada, Sumbar telah swasembada beras," kata dia. Sayangnya menurut dia, produksi beras Sumbar tersebut dijual keluar oleh pedagang. "Kita tentu tidak dapat melarang pedagang untuk melakukan aktivitas perdagangan mereka," kata dia. Solusi yang dilakukan menurut dia dengan program lumbung pangan melibatkan kelompok tani di Sumbar. "Kelompok tani tersebut kita berikan dana hibah untuk membeli hasil panen padi petani dengan harga pasar. Padi tersebut di stok untuk kemudian di lepas ke pasar jika terjadi kekurangan stok di pasar," kata dia.(**/mko)
Pewarta: Inter
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
