Logo Header Antaranews Sumbar

BI Minta FDI Diarahkan ke Industri Penunjang

Kamis, 27 November 2014 16:13 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo meminta aliran investasi asing langsung lebih diarahkan ke industri penunjang sehingga defisit neraca transaksi berjalan dapat terkompensasi dengan pembiayaan sektor produktif. "Dan seandainya impor meningkat (karena laju investasi), impor itu tujuannya untuk (industri) antara. Dan artinya rasio defisit tetap di 2,5 persen hingga 3 persen, namun kontennya untuk yang produktif, bukan untuk yang konsumtif," kata Agus seusai meresmikan Kantor Perwakilan Wilayah BI di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Kamis. Agus mengatakan tidak terlalu khawatir dengan strategi pemerintah yang begitu mengandalkan investasi untuk menopang pertumbuhan ekonomi 5,8 persen sesuai target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015. Dengan upaya pemerintah menggenjot investasi, Agus mengakui laju impor juga dapat ikut naik karena kinerja industri dalam negeri akan semakin menggeliat, sehingga akan mendongkrak impor barang modal dan bahan baku. Keterbatasan bahan baku itu karena belum berkembangnya industri penunjang, yang memikiki kapasitas untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. "Tapi sebenarnya yang lebih utama itu, impornya jangan sesuatu yang dikonsumsi. Tidak apa-apa itu impornya agak tinggi, tapi harus produktif," ujar dia. Jika aliran investasi diarahkan untuk mengembangkan industri antara ataupun industri penunjang, diharapkan ketergantungan terhadap bahan baku, bahan penolong impor dapat ditekan, sehingga akan memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan. Salah satu sektor industri yang sangat diandalkan pemerintah adalah industri manufaktur dan juga otomotif yang, diharapkan dapat memelihara surplus neraca perdagangan. Agus menekankan bahwa Bank Sentral tidak muluk-muluk menginginkan neraca transaksi berjalan dapat positif, namun pihaknya lebih mengarahkan ke kisaran ideal 2,5-3 persen. Dia meyakini, dengan langkah pemerintah yang telah mengalihkan subsidi Bahan Bakar Minyak, laju defisit transaksi berjalan dapat sesuai target. "Dan sejak beberapa tahun ke belakang defisit transaksi berjalan kita itu terus tertekan impor BBM yang sangat besar. Dan impor BBM ini adalah untuk subsidi yang konsumtif. Tidak baik itu," ujarnya. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro sebelumnya mengatakan derasnya pertumbuhan FDI akan dimanfaatkan pemerintah untuk membiayai pembangunan infrastruktur dasar. Aliran investasi langsung ini, kata dia, juga menjadi penopang startegi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan 5,8 persen. Namun, Bambang menjanjikan akan memberikan insentif bagi investor yang ingin mengembangkan industri penunjang. Untuk defisit transaksi berjalan, menurut Bambang, hingga akhir tahun akan semakin berkurang bahkan di bawah tiga persen. Salah satuna karena pemulihan ekspor manufaktur ke Amerika Serikat yang juga sedang menjalani perbaikan ekonomi. Hingga kuartal III, defisit transaksi berjalan mengalami perbaikan menjadi 6,8 miliar dolar AS atau sekitar 3,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan perbaikan karena pada kuartal sebelumnya, defisit mencapai 8,68 miliar dolar AS atau 4,07 persen dari PDB. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026