
PBB Peringatkan Ancaman Ebola

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Para pejabat PBB memberi penjelasan mengenai Ebola di Markas PBB, New York, Jumat (10/10) dan mengatakan krisis saat ini adalah tantangan "yang tak pernah ada sebelumnya" sebab virus tersebut berada "jauh di depan" reaksi global. "Dunia tak pernah menyaksikan sesuatu yang seperti itu. Waktu adalah musuh kita. Virus tersebut berada jauh di depan kita," kata Anthony Banbury, Kepala Misi PBB bagi Reaksi Tanggap Darurat Ebola (UNMEER), melalui konferensi jarak jauh video dari Markas Operasi PBB di Ghana, selama pertemuan tidak resmi Sidang Pleno mengenai Ebola di Markas PBB. Dengan menekankan krisis Ebola memiliki dampak sangat besar di negara yang terpengaruh --Liberia, Guinea dan Sierra Leone, Banbury menyatakan praktek kebudayaan dan sosial tradisional di semua negara itu harus berusaha keras untuk memerangi penyakit tersebut sebab banyak warga lokal masih menganggap Ebola itu tidak nyata. Namun ia juga memberitahu para pejabat dalam pertemuan tersebut bahwa UNMEER berusaha merancang metoda yang dapat diterima masyarakat untuk menangani penyakit itu, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu siang. Tim tersebut, katanya, mengerahkan sumber daya ke tempat paling diperlukan untuk mengisi jurang pemisah dan mendukung orang yang memerlukan pertolongan. "Kita terlambat, tapi tidak terlalu terlambat untuk memerangi penyakit itu dan menang dalam pertempuran," katanya. Banbury menyerukan dilancarkan aksi segera dunia, sebab UNMEER, sebagaimana dijelaskannya, tak bisa berjuang sendirian dan ia mengatakan masih banyak yang perlu dilakukan termasuk memperkokoh pusat perawatan dan laboratorium diagnostik di lapangan, meningkatkan dukungan keuangan buat lembaga bantuan, dan pengaturan untuk mengobati dan mengungsikan pekerja yang menangani penyakit tersebut. Sam Kutesa, Presiden Pertemuan Ke-69 Sidang Majelis Umum PBB, juga mendesak masyarakat internasional agar menepati janji untuk memberi dukungan dan mewujudkan penyelesain yang inovatif tapi praktis guna mengendalikan penyebaran lebih lanjut Ebola. "Bahkan dari negara anggota yang sudah memberi sumbangan, masih banyak yang diperlukan," ia menambahkan. Menurut data PBB yang disiarkan pada 8 Oktober, lebih dari 8.000 orang dipercaya atau diduga telah terinfeksi, dan lebih dari 3.300 orang telah meninggal sejak wabah Ebola dikonfirmasi pada Maret. Penyakit tersebut pertama kali muncul di Afrika Barat, lalu beberapa kasus juga dikonfirmasi di Amerika Serikat. Virus itu ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Sejauh ini, tak ada obat atau vaksi yang disetujui buat penyakit tersebut. Tanda awal penyakit mematikan tersebut meliputi demam, sakit kepala, muntah dan diare. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
