Logo Header Antaranews Sumbar

Militan "Negara Islam" Bunuh Wartawan Kedua Amerika Serikat

Rabu, 3 September 2014 07:37 WIB
Image Print

Washington, (Antara/AFP) - Militan dari kelompok yang disebut "Negara Islam" telah membunuh wartawan kedua dari Amerika Serikat, dengan menyiarkan video lainnya, Selasa, yang menunjukkan seorang militan bertopeng dengan logat Inggris memotong tenggorokan seorang sandara AS. Dalam tayangan paling akhir itu, Steven Sotloff, wartawan yang berusia 31 tahun, dengan tenang berbicara di depan kamera bahwa dia korban dari keputusan Presiden Barack Obama untuk melancarkan serangan-serangan udara terhadap para pejuang. Pada akhir rekaman lima menit, yang ditemukan dalam jaringan oleh kelompok pemantau terorisme SITE dan dilihat oleh AFP, militan itu mengancam tahanan lainnya, yang diidentifikasi di layar kaca TV seorang warga Inggris. "Saya kembali, Obama, dan saya kembali dikarenakan kebijakan luar negeri sombong Anda terhadap Negara Islam," kata petempur yang berpakaian hitam, mengacungkan sebilah pisau tempur dan berbicara dengan logat London. Ini merupakan satu rujukan kepada sebuah video yang dikeluarkan bulan lalu saat wartawan AS James Foley dibunuh, lagi oleh seorang pejuang asing yang diduga asal Inggris, dan berpakaian hitam. Militan itu mengutuk serangan-serangan udara AS yang baru-baru ini dilakukan atas kawasan sekitar bendungan Mosul di Irak, bertanggal setelah pembunuhan Foley, yang berusia 40 tahun. "Jadi sama dengan peluru-peluru kendali Anda terus menyerang leher-leher orang kami, pisau kami akan terus menyerang leher-leher orang Anda," katanya, sebelum ia mengiris leher tahanannya. Rambut dan janggut Sotloff lebih panjang daripada dalam tayangan sebelumnya. Dia diancam mati sebagai balasan atas serangan-serangan terhadap pasukan IS. Dalam satu peringatan kepada Inggris, pembunuh itu menyatakan, "Kami mengambil peluang ini untuk memperingatkan pemerintah-pemerintah itu bahwa memasuki aliansi iblis Amerika terhadap Negara Islam untuk mundur dan biarkan orang-orang kami sendiri." Keluarga Sotloff, yang tinggal di Miami, mengeluarkan pernyataan melalui seorang juru bicara, Barak Barfi, membenarkan secara implisit video itu otentik. "Keluarga tahu tragedi yang mengerikan ini dan berduka cita. Tak akan da komentar dari keluarga pada saat sulit ini," demikian pernyataan itu. Setelah kematian Foley, ibunda Sotloff, Shirley telah menyatakan dalam pesan video kepada pemimpin IS Abu Bakr al-Baghdadi yang memohon keselamatan puteranya, dan menyatakan ia tak memiliki pengaruh atas kebijakan AS. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026