Logo Header Antaranews Sumbar

Pemerintah: Afsel Tak Terlibat Dalam Kudeta di Lesotho

Senin, 1 September 2014 10:14 WIB
Image Print

Cape Town, (Antara/Xinhua-OANA) - Departemen Pertahanan Afrika Selatan pada Ahad (31/8) membantah laporan bahwa pasukan khususnya telah membantu menggagalkan upaya kudeta di Lesotho. Sunday Times melaporkan Pasukan Khusus Afrika Selatan membantu menyelamatkan Perdana Menteri Tom Thabane melintasi perbatasan cuma beberapa jam sebelum kudeta. "Saya tak yakin bahwa laporan di Sunday Times akurat. Masalah ini adalah masalah tingkat yang jauh lebih tinggi daripada cuma pasukan pertahanan," kata Juru Bicara Departemen Pertahanan Afrika Selata Siphiwe Dlamini, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin. Ia menyatakan Pemerintah Afrika Selatan terus memantau situasi di Lesotho. Masalah itu, katanya, akan ditangani oleh Masyarakat Pembangunan Afrika Selatan (SADC). Juru Bicara Pemerintah Afrika Selatan Clayson Monyela sebelumnya mengatakan Presiden Jacob Zuma akan menyerukan pertemuan organ keamanan SADC guna memutuskan tindakan lebih lanjut. Pada Sabtu pagi (30/8), militer Lesotho menyerbu rumah Thabane dan menguasai markas polisi serta kantor polisi Mabote di Ibu Kota negeri tersebut, Maseru, dalam tindakan yang diduga sebagai kudeta. Menurut Monyela, tindakan militer itu memaksa perdana menteri bersembunyi di Afrika Selatan. Namun, perdana menteri tersebut mengatakan ia berada di Afrika Selatan untuk mengunjungi putrinya dan akan kembali ke Lesotho pada Ahad. Militer menyatakan militer melakukan tindakan itu setelah menerima informasi intelijen bahwa perwira polisi bermaksud menyalurkan senjata dan amunisi kepada konvensi All Basotho, pimpinan Thabane, yang dinamakan "Di Bawah Pohon". Masalah telah merebak di kerajaan tersebut sejak Juni, setelah Thabane membubarkan parlemen di tengah desas-desus bahwa anggota parlemen akan mensahkan pemungutan suara dalam mosi tak percaya terhadap dia. Pemerintah Afrika Selatan telah berusaha menengahi kesepakatan perdamaian di Lesotho selama lebih dari dua bulan, kata Sunday Times. Setelah Thabane melarikan diri dari Lesotho, Wakil Perdana Menteri Mothetjoa Metsing telah bertugas dalam pemerintah di kerajaan itu, kata seorang menteri. "Selanjutnya, karena ketidak-beradaan perdana menteri, wakil perdana menteri mengambil-alih tanggung jawab," kata Selibe Mochoboroane, Menteri Komunikasi, Sains dan Teknologi, kepada media. Metsing dilaporkan telah tiba di Afrika Selatan untuk pembicaraan di Pretoria atas undangan Afrika Selatan. Pemerintah Afrika Selatan, yang telah menggunakan pengaruhnya atas kerajaan tersebut, menyerukan penyelesaian damai dan mengesampingkan kemungkinan campur tangan militer pada saat ini. Pada Maret 1998, Afrika Selatan campur-tangan guna memadamkan kudeta di Lesotho, setelah kerusuhan luas yang dipicu oleh tuduhan kecurangan dalam pemungutan suara dalam pemilihan anggota parlemen. (*/sun)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026