
Pengunjukrasa Pakistan Bergerak Hingga PM Syarif Mundur

Islamabad, (Antara/Reuters) - Pemimpin dua gerakan unjukrasa Pakistan, Sabtu, berikrar tetap melakukan kegiatan hingga Perdana Menteri Nawaz Sharif mundur, setelah ribuan orang memasuki ibu kota negara itu dalam tentangan terbesar pemerintah itu. "Saya tidak akan pergi dari sini hingga memperoleh kebebasan nyata bagi negara," kata mantan bintang kriket Imran Khan, yang memimpin partai oposisi Tehreek-e-Insaaf kepada ribuan pendukung, yang mengikutinya memasuki Islamabad sehari sebelumnya. "Munawaz Sharif Mundur dan mengumumkan pemilihan umum," katanya. Ulama terkenal Tahir ul-Qadri, yang memimpin satu protes terpisah di ibu kota itu, berrncana akan melakukan aksi duduk bersama dengan para pengikutnya dan menyampaikan pidato. "Dr.Qadri akan mengajukan Tuntutan Revolusi Maret 2014, yang termasuk menurunkan Nawaz Sharif dan pemerintahnya dan segera menahan dia," kata juru bicara Qadri, Shahid Mursaleen. Protes itu mnimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang stabilitas Pakistan pada saat negara yang memiliki senjata nuklir dan berpenduduk 180 juta jiwa itu memerangi gerilywan Taliban dan ketika pengaruh anti-Barat dan kelompok-kelompok sektarian meningkat. Pada Jumat, satu kelompok massa yang melemparkan batu menyerang konvoi Khan ketika ia memimpin para pendukungnya melalui kota timur Gujranwala.Konvoinya ditembaki tetapi Khan tidak cedera, kata juru bicaranya. Pemerintah mengatakan tidak ada penembakan,dan polisi menahan 16 pegiat dari partai yang berkuasa. Di Islamabad, pihak berwenang memblokir jalan-jalan dengan peti-peti kemas kapal dan kawat berduri dalam usaha mengendalikan para pengunjuk rasa, dan polisi anti huru hara dikerahkan. "Kami rasa Imran Khan akan membuat negara lebih baik bagi pemuda," kata Muhammad Taraki, 25 tahun pendukung Khan. Beberapa anggota partai Sharif menduga protes-protes itu secara diam-diam didukung oleh unsur-unsur dalam militer, yang tidak memliki hubungan baik dengan Sharif. Beberapa orang khawatir terjadi kudeta, tetapi banyak pejabat merasa ancaman kerusuhan akan meningkatkan kemungkinan militer akan mengambil alih kekuasaan. Militer frustrasi dengan pemerintah,khususnya menyangkut hukuman terhadap mantan panglima militer dan presiden Pervez Musharaf atas tuduhan pengkhianatan. Juga ada ketidaksepakatan antara pemerintah dan militer tentang bagaimana mnangani Taliban. Pemerintah bersikeras pada perundingan perdamaian tetapi sebaliknya tentara telah melancarkan serangan. Pemerintah juga menghadapi perjuangan untuk mengatasi kekurangan listrik, tingkat pengangguran yang tinggi dan kejahatan yang merajalela-- warisan puluhan tahun korupsi dan kelalaian. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
