
Kepala Lembaga Kemanusiaan PBB Prihatin Situasi di Irak

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Kemanusiaan Valerie Amos tetap sangat prihatin dengan situasi kemanusiaan di Irak. Di negara Arab itu banyak keluarga sangat memerlukan bantuan dan anak-anak rentan terhadap wabah penyakit dan gizi buruk, kata seorang juru bicara PBB di Markas badan dunia itu di New York, AS, baru-baru ini. "Badan PBB dan mitra kemanusiaan mereka berusaha sekuat mungkin untuk mendukung tanggapan kemanusiaan di negeri itu kendati ada masalah keamanan," kata Juru Bicara Stephane Dujarric dalam satu taklimat harian. "Valerie Amos menyebut pengumuman baru-baru ini oleh Pemerintah Arab Saudi untuk menyumbang 500 juta dolar AS bagi upaya bantuan di Irak sebagai sangat tepat waktu dan sangat baik hati," kata juru bicara itu. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada Selasa (30/6) mengucapkan terima kasih kepada Arab Saudi karena menyumbang 500 juta dolar guna mendukung upaya bantuan kemanusiaan di Irak. Arab Saudi telah menjanjikan 500 juta dolar dalam bantuan kemanusiaan buat Irak, dan dana tersebut akan disalurkan melalui PBB kepada mereka yang memerlukan tak peduli latar belakang aliran agama atau suku mereka. "Valerie Amos mengatakan dana itu akan membantu organisasi kemanusiaan dengan cepat meningkatkan upaya mereka," kata Dujarric sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi. Valerie Amos mengeluarkan pernyataan itu saat situasi keamnusiaan dan keamanan memburuk di negara Timur Tengah tersebut, tempat lebih dari 1,2 juta orang telah meninggalkan rumah mereka karena takut akan keselamatan mereka. "Saat situasi keamanan terus memburuk, saya sangat khawatir mengenai keluarga yang sangat memerlukan air, makanan, tempat berlindung, perawatan kesehatan, keberhasilan dan perlindungan dari kerusuhan," kata Valerie Amos, yang juga adalah Koordinator Bantuan Darurat PBB. Itu semua meliputi upaya untuk membantu perempuan dan anak-anak, yang dilaporkan telah diculik, diperkosa dan dipaksa menikah dengan gerilyawan fanatik Negara Islam Irak dan Levant (ISIL/ISIS) serta kelompok lain bersenjata. Sebanyak 20.000 perempuan dan anak perempuan di Irak menghadapi resiko yang makin besar berupa kekerasan seksual sebagai akibat dari krisis yang meningkat di bagian utara dan barat negeri tersebut, kata Dana Kependukan PBB awal pekan ini. Badan PBB itu menyatakan sejak kerusuhan paling akhir meletus tiga pekan lalu di Irak Utara, dari sebanyak satu juta orang yang kehilangan tempat tinggal akibat krisis, 250.000 perempuan dan anak gadis --termasuk hampir 60.000 perempuan hamil-- memerlukan perawatan kesehatan mendesak. Secara keseluruhan, lebih dari 2,2 juta orang sekarang kehilangan tempat tinggal di Irak, termasuk satu juta orang yang sudah mengungsi di Irak akibat konflik di Suriah dan konflik sebelumnya. Banyak dari mereka telah menyelamatkan diri ke Wilayah Otonomi Kurdi, tempat badan PBB berusaha sekuat mungkin untuk menanggapi reaksi kemanusiaan kendati terus ada temuan mengenai ketegangan keamanan yang berkecamuk, kata Valerie Amos. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
