
Pegawai Pemerintah Tewas Dalam Ledakan Bom di Somalia

Mogadishu, (Antara/Reuters) - Seorang pegawai Kementerian Perhubungan Somalia tewas dalam ledakan bom di ibu kota negara itu, Mogadishu, Senin, beberapa jam setelah sedikitnya dua orang tewas dan tujuh lain cedera ketika pemboman terjadi di sebuah pasar yang ramai, kata beberapa pejabat. Militan Al-Shabaab, yang telah berjanji melancarkan serangan-serangan selama Ramadan, mengklaim bertanggung jawab atas kedua serangan itu. Kelompok tersebut juga mengaku bahwa anggota-anggotanya menembak mati tiga orang pada Minggu dan mengatakan, pembunuhan-pembunuhan itu merupakan awal dari operasi Ramadan mereka. Ahmed Issack, seorang polisi di kota itu, mengatakan kepada Reuters, pegawai pemerintah itu tewas di rumah sakit akibat luka-lukanya dalam ledakan tersebut, yang terjadi ketika ia mengendarai mobilnya. Belum jelas apakah bom Senin itu dipasang di mobil korban atau di jalan dan diledakkan dari jarak jauh, kata Issack. Aparat pemerintah dan pasukan penjaga perdamaian Uni Afrikia telah berusaha meningkatkan keamanan untuk mencegah serangan selama Ramadan oleh Al-Shabaab. Selama setahun terakhir, Al-Shabaab membunuh puluhan orang dalam serangan-serangan bergaya gerilya di Mogadishu terhadap kantor PBB, kompleks kepresidenan, parlemen dan pengadilan. Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah Somalia dukungan PBB. Kelompok itu menggegerkan dunia tahun lalu dengan serangan di pusat perbelanjaan di Nairobi, Kenya, yang dimulai Sabtu siang (21 September), ketika orang-orang bersenjata menyerbu ke dalam kompleks pertokoan itu dengan menembakkan granat dan senjata otomatis serta membuat pengunjung toko yang panik lari berhamburan untuk menyelamatkan diri. Penyerang menyandera sejumlah orang dan terlibat dalam pertikaian dengan polisi dan pasukan hingga Selasa (24 September), ketika Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengumumkan bahwa bentrokan telah berakhir dan sedikitnya 67 orang tewas. Kenya, yang menjadi tempat tinggal banyak warga Somalia, dilanda gelombang serangan, terutama di Nairobi dan kota pelabuhan Mombasa, serta Garissa, setelah pasukan negara itu memasuki Somalia pada Oktober 2011 untuk menumpas kelompok gerilya garis keras Al-Shabaab, yang mereka tuduh bertanggung jawab atas penculikan dan serangan bom di dalam wilayah Kenya. Pasukan Kenya menyerang pangkalan-pangkalan Al-Shabaab sejak tiga tahun lalu dan kemudian bergabung dengan pasukan Uni Afrika berkekuatan 17.700 orang yang ditempatkan di Somalia. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
