
Taliban Rebut Wilayah Setelah Serangan Afghan

Kandahar, Afghanistan, (Antara/AFP) - Taliban telah membentuk pijakan di Afghanistan selatan dalam pertempuran sepuluh hari melawan pasukan Afghanistan, kata penduduk setempat, Ahad, saat tentara dan polisi berjuang untuk membuktikan bahwa mereka dapat mengalahkan pemberontak tanpa bantuan NATO. Satu serangan terkoordinasi oleh 800 pejuang Taliban di pos pemeriksaan polisi dan militer dimulai pada 19 Juni, dengan pasukan Afghanistan bergegas masuk untuk merebut kembali bagian dari Kabupaten Sangin di Provinsi Helmand. Meskipun pemerintah mengklaim bahwa Taliban telah mengarahkan serangkaian serangan balik, Hashim Alkozai, sesepuh setempat, mengatakan kepada AFP bahwa para pemberontak telah berhasil mempertahankan dua bidang utama di kabupaten. "Pemerintah telah mengirim bala bantuan lagi ke Sangin, tetapi Taliban masih memiliki dua daerah lagi, Barekzai dan Bostanzai, di bawah kendali mereka," kata Alkozai setelah melarikan diri ke Lashkar Gah, ibu kota Provinsi Helmand. "Presiden Hamid Karzai telah berjanji untuk mengirimkan beberapa bantuan, tetapi itu tidak cukup, rakyat kita membutuhkan makanan dan tempat tinggal." Sangin, sebuah distrik strategis penting di pusat perdagangan opium Afghanistan yang menguntungkan, telah menjadi ajang pertempuran sengit selama bertahun-tahun antara pasukan NATO dipimpin AS dan Taliban. Dengan misi tempur NATO mereda tahun ini, serangan Taliban dipandang sebagai ujian pasukan pemerintah Afghanistan yang dilatih NATO sekarang bertanggung jawab uutuk memadamkan pemberontakan. Pasukan Inggris terlibat dalam pertempuran berdarah di Sangin selama empat tahun dengan sedikit dampak, sebelum marinir AS menggantikan mereka pada akhir 2010 dan akhirnya ditarik keluar bulan lalu. "Pertempuran masih berlangsung di beberapa bagian Sangin, banyak bala bantuan telah dikirim untuk menghilangkan kantong-kantong perlawanan,"ata Omar Zwak, juru bicara Gubernur Helmand, kepada AFP. "Musim pertempuran" musim panas ini akan menjadi yang terakhir bagi pasukan tempur pimpinan AS yang dikerahkan di Afghanistan, setelah perang 13 tahun memakan korban jiwa lebih dari 3.500 tentara koalisi dan gagal untuk menghancurkan Taliban. Pertempuran di Helmand terjadi saat politisi di Kabul terkunci dalam jalan buntu selama pemilihan presiden, dengan satu calon, Abdullah Abdullah, yang mengatakan ia menolak penghitungan suara yang sedang berlangsung karena penipuan besar-besaran. Pada Minggu, pemerintah mengklaim Taliban telah dihantam kembali dan 260 gerilyawan tewas, sementara Taliban mengatakan bahwa pertempuran berlanjut. "Taliban telah menanam ranjau hampir di setiap bagian dari Sangin, sehingga tidak ada kendaraan berani untuk melaju bahkan di jalan-jalan utama, "kata Jan Toor, yang lolos dari pertempuran dengan berjalan kaki selama dua hari bersama sepuluh anggota keluarganya ke Lashkar Gah. "Kami sekarang hidup dengan saudara-saudara kami, tetapi ini tidak bisa berlangsung lama. Kami membutuhkan berbagai jenis bantuan," katanya. Pemerintah Afghanistan mengatakan tidak meminta bantuan kepada NATO, tetapi koalisi mengatakan telah memberikan dukungan udara dekat terbatas serta intelijen, pengawasan dan bantuan pengintaian. Ancaman kebangkitan Taliban saat pasukan tempur asing menarik diri menjadi ketakutan utama bagi banyak warga Afghanistan, meskipun para pejabat pemerintah dan NATO bersikeras bahwa tentara dan polisi nasional semakin efektif. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
