
Banyak Pekerja Kamboja Diperkirakan Kembali ke Thailand

Sa Karo, (Antara/TNA-0ANA) - Banyak pekerja Kamboja diperkirakan akan kembali bekerja di Thailand setelah pemerintah Kamboja mengurangi tajam biaya paspor menjadi empat dolar AS dari semula antara 135-250 dolar AS, menurut seorang perwira senior polisi imigrasi. Kol. Pol Benjapol Rodsawas, wakil kepala polisi imigrasi Sa Kaeo, mengatakan biaya penerbitan paspor untuk orang-orang Kamboja dianggap "positif" karena akan membantu rakyat miskin Kamboja untuk mengajukan permohonan paspor dan juga bisa menghilangkan pekerja gelap Kamboja memasuki Thailand. Dia mengatakan, pemerintah Thailand harus memantau bagaimana isu-isu paspor pemerintah Kamboja kepada rakyatnya, dan bagaimana mereka kemudian masuk ke Thailand dan bekerja di sini saat Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban (NCPO) sedang berusaha untuk melegalkan pekerja migran di negeri ini. Lebih dari 100.000 pekerja migran Kamboja dan Vietnam telah meninggalkan Thailand untuk kembali ke negara mereka dalam beberapa pekan terakhir, karena rumor bahwa NCPO akan menghukum para migran yang bekerja di Thailand secara ilegal. Kol. Pol Benjapol mengatakan, ia diberitahu oleh para pejabat Kamboja bahwa para pekerja Kamboja yang melamar pekerjaan melalui agen-agen tenaga kerja legal akan berhak untuk menikmati biaya pembuatan pasopor saat ini. Junta militer Thailand mengirimkan 5.000 pekerja migran Kamboja lainnya kembali ke Kamboja, Kamis, sehingga jumlah pekerja Kamboja yang dideportasi dari Thailand atau melarikan diri karena khawatir tindakan keras junta terhadap pekerja asing ilegal mencapai 225.000, kata seorang pejabat senior. "Pada Kamis malam, sekitar 225.000 buruh migran Kamboja, sebagian besar ilegal, telah dipulangkan dari Thailand," kata Mayor Jenderal Pich Vanna kepala Kantor Urusan Perbatasan Kamboja-Thailand, melalui telepon. "Sekitar 5.000 buruh dikirim kembali ke Kamboja dari Thailand hari ini (Kamis)." Jumlah pekerja migran Kamboja meninggalkan Thailand melonjak setelah junta Thailand memperingatkan pekan lalu bahwa para pekerja asing ilegal bisa menghadapi penangkapan dan deportasi. Diperkirakan hampir 400.000 pekerja Kamboja telah bekerja di Thailand sebelum tindakan keras tersebut. Partai oposisi utama Kamboja Kamis mengutuk rezim militer Thailand karena terlalu buruk memperlakukan pekerja migran Kamboja dengan mengangkut mereka di dalam truk-truk polisi terkunci ke perbatasan. "Partai Penyelamat Nasional Kamboja benar-benar mengutuk pemerintah Thailand karena telah menangkap pekerja Kamboja, dijejalkan ke dalam truk-truk sangkar, dan membawa mereka untuk dibuang di pos pemeriksaan perbatasan Kamboja-Thailand seperti binatang," kata pernyataan partai. "Tindakan tidak manusiawi ini melanggar hak asasi manusia," tegasnya. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Sar Kheng, Selasa mengecam junta Thailand karena mendeportasi para pekerja migran Kamboja terburu-buru tanpa pemberitahuan atau diskusi dengan Kamboja sebelumnya, dan mengatakan junta harus bertanggung jawab atas semua masalah yang telah terjadi. Namun, rezim militer Thailand telah membantah bahwa ia telah menerapkan kebijakan untuk menindak atau mendeportasi para pekerja migran Kamboja. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
