
Yudi Latif: Debat Capres Seperti Ajang Monolog

Jakarta, (Antara) - Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif menyatakan, debat capres/cawapres yang telah berjalan menjelang Pemilu Presiden 9 Juli 2014 seperti ajang monolog padahal perlu pembahasan dialogis yang lebih rinci dan fokus pada penyelesaian masalah. "Masing-masing hanya berbicara atas apa yang dia pikirkan," katanya menjawab Antara di Jakarta, Kamis, mengenai efektivitas debat dan penyampaian visi misi capres dan cawapres selama masa kampanye ini. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014 diikuti pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Komisi Pemilihan Umum menyiapkan lima kali debat capres dan cawapres peserta Pemilu 2014 yakni pada 9 Juni 2014 antara Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla bertema "Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Kepastian Hukum", pada 15 Juni 2014 antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo dengan tema "Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial". Pada 22 Juni 2014 dijadwalkan debat antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo dengan tema "Politik Internasional dan Ketahanan Nasional, pada 29 Juni 2014 antara Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla dengan tema "Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Iptek", dan pada 5 Juli 2014 antara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK dengan tema "Pangan, Energi, Lingkungan". Yudi Latif yang ditemui seusai Seminar Nasional GBHN versus Visi Misi Presiden Untuk Indonesia Ke depan" di Universitas Pancasila, Jakarta, menambahkan bahwa pada dua kali debat itu, waktu tukar-menukar pertanyaan yang disediakan oleh moderator pada akhirnya juga tidak menjawab substansi permasalahan. "Harusnya kedua capres diberikan bahasan yang detil dan fokus ke penyelesaian permasalahan," kata alumni Doktor dari The Australian National University itu. Yudi mencontohkan debat ketiga yang mengambil tema politik internasional dan ketahanan nasional yang dianggapnya terlalu umum. "Seharusnya KPU mengambil permasalahan di bidang itu dengan mengangkat satu tema detil an terkait isu yang berkembang dan menarik di masyarakat," katanya. Yudi menyayangkan sistem debat capres saat ini karena visi dan misi yang seharusnya menjadi poin penting untuk disampaikan kepada masyarakat justru tidak tersampaikan. "Kalau melebar seperti itu akan menjadi sulit karena dibatasi oleh waktu. Jadi semua serba tanggung," katanya. Ketua Pusat Studi Universitas Pancasila itu berharap KPU menyiapkan materi yang lebih fokus kepada isu-isu yang tajam untuk dibahas kedua capres, sehingga akan terlihat betul visi dan misi keduanya. Menurut dia, visi misi capres dan cawapres yang baik adalah yang dirasakan paling penting bagi rakyat. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
