
Pengamat: Debat Capres Harus Lebih Kritis

Jakarta, (Antara) - Pengamat politik dari Universitas Jayabaya Igor Dirgantara memandang sesi debat capres-cawapres ke depan harus berlangsung lebih kritis dengan cara mempertajam visi-misi kedua peserta. "Momentum debat harus seperti layaknya perdebatan masing-masing peserta yang dilakukan secara lebih kritis, bukan seperti acara cerdas cermat anak-anak sekolah," kata Igor dihubungi dari Jakarta, Kamis. Igor mengatakan, ada empat poin yang perlu diperhatikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku fasilitator debat capres-cawapres, agar debat bisa berlangsung tajam dan kritis. Pertama, Igor mengusulkan sebaiknya undangan penonton debat bagi pendukung kedua kubu dibatasi, dan lebih baik mengundang lebih banyak kaum profesional dan mahasiswa dari beberapa kampus di studio. Kedua, apabila debat itu melibatkan capres dan cawapresnya, maka alokasi waktu bagi pasangan sebaiknya dibakukan. Dia mencontohkan apabila setiap pasangan diberi waktu lima menit, maka tiga menit dapat diberikan kepada capres dan dua menit sisanya untuk cawapres. Ketiga, kata Igor, moderator hendaknya diberi ruang lebih untuk bisa mengarahkan peserta debat dalam memfokuskan visi-misinya. "Misalnya, moderator harus bisa melontarkan isu tertentu sesuai tema, agar terjadi perdebatan yang kritis diantara pasangan capres-cawapres," ujar Igor. Keempat, debat harus mewajibkan solusi yang ditawarkan masing-masing peserta, dan tidak terus terpaku pada paparan kandidat. "Oleh karea itu, sesi untuk para kandidat bertanya perlu ditambah durasi waktunya, demi menajamkan visi-misinya," ucap Igor. KPU memberikan kesempatan kepada kedua pasangan capres Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK untuk menjelaskan secara mendalam visi-misinya kepada publik melalui debat capres-cawapres yang diagendakan berlangsung lima kali. Pada 15 Juni 2014 nanti dua capres Prabowo dan Jokowi akan menjalani proses debat kedua dengan tema perekonomian. Pengamat ekonomi Telisa Faliyanti mengatakan kedua Calon Presiden RI yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) harus menjelaskan visi-misinya untuk menjawab permasalahan ekonomi secara komprehensif dalam debat itu. Menurut Telisa, ada tiga poin permasalahan ekonomi bangsa yang patut dijelaskan Prabowo dan Jokowi. "Ketiga poin itu adalah bagaimana mereka bisa membawa Indonesia untuk mentransformasi struktur perekonomian kita, bagaimana upaya transformasi struktural untuk menyejahterakan rakyat, dan bagaimana upaya untuk mencapai visi Indonesia sebagai perekonomian kelima di dunia 2030," ujar Telisa dihubungi dari Jakarta, Kamis. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
