Padang (ANTARA) - Penulis asal Malang Sasti Gotama mengatakan, seorang penulis novel atau karya sastra lainnya tidak hanya harus membaca karya fiksi untuk memperkaya bacaan, namun juga karya non fiksi.

"Cara menghasilkan tulisan yang baik, banyak membaca, banyak menulis, membaca sebanyak mungkin baik itu fiksi maupun non fiksi," kata Sasti saat menjadi narasumber lokakarya sastra digelar Taman Budaya Sumatera Barat di Padang, Selasa.

Penulis peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 itu mengibaratkan karya sastra itu seperti kapsul, saat membaca fiksi dapat mengindahkan lapisan luar kapsul dengan mempelajari gaya bahasa, narasi, pengembangan alur cerita, penciptaan tokoh dan alur yang benar.

Sementara ketika membaca non fiksi membuat isi kapsul berkhasiat dengan memperkaya cerita-cerita secara unik yang didapat dari bacaan itu.

Sasti juga mengingatkan agar menulis sesering mungkin dan menulis ulang dengan gaya penulis idola, karena memori motorik lebih bisa memahami struktur kalimat dan gaya bahasa hingga menemukan gaya sendiri.

Ia mengutip apa yang dilakukan penulis Amerika Stephen King yakni dengan menulis minimal 2.000 kata per hari serta menulis apa yang penulis tahu dan apa yang penulis suka.

Menurutnya, sebuah cerita itu adalah realitas, imajinasi dan seni, karena realitas tanpa imajinasi hanya menjadi laporan jurnalistik yang kering.

Sementara imajinasi tanpa realitas menjadi dongeng yang kosong begitu juga realitas dan imajinasi tanpa seni, tak akan menjadi kisah yang indah.

Sasti Gotama adalah penulis Indonesia berlatar belakang dokter yang meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Juara 1 Hadiah Sastra Rasa 2022, dan Juara 2 Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2024. 

Ia menjadi narasumber bersama penulis perempuan lainnya, Yetti A.KA yang akan menemani 25 peserta lokakarya sastra kepenulisan novel hingga tiga hari ke depan. (*)