Kabupaten Tanah Datar (ANTARA) - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di akhir November 2025 lalu, tidak hanya merenggut ribuan korban jiwa, tetapi juga meluluhlantakkan perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Kini, dua bulan bencana berlalu, kehidupan masyarakat Sumatera, khususnya di tiga provinsi terdampak, berangsur pulih dan mulai menatap masa depan di tengah perjuangan yang memang tidak mudah. Di Sumatera Barat, para penyintas dan warga terdampak tak ingin menjadikan bencana sebagai alasan untuk berdiam diri.

Seperti yang dilakukan Basri, seorang pengepul sekaligus pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikan goreng bilih (Mystacoleucus Padangensis) di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, yang mulai bangkit menjalankan usahanya pascabencana terjadi.

Basri menceritakan di awal-awal bencana terjadi, beberapa nelayan ikan bilih di sekitaran Danau Singkarak masih menangkap ikan yang kemudian dijual kepada pengepul. Seperti biasanya, Basri selalu menerima berapapun hasil tangkapan nelayan.

Namun, ada yang berbeda dari ikan-ikan yang ia peroleh dari nelayan di awal bencana terjadi. Para pelanggan mengeluhkan rasa daging ikan yang tidak seperti biasanya. Basri menyadari banjir bandang dan tanah longsor sangat mempengaruhi kualitas ikan sehingga ia memutuskan sementara waktu tidak menerima hasil tangkapan nelayan sebelum kondisi sungai dan danau membaik.

Beberapa minggu setelah tidak menerima pasokan ikan dari nelayan, justru membawa keberkahan bagi Basri dan pengepul ikan bilih lainnya, karena hasil tangkapan ikan melonjak pesat dari rata-rata 15 kilogram menjadi 200 kilogram per hari.

Meningkatkanya produksi ikan bilih dari nelayan juga membawa efek domino bagi masyarakat lokal. Biasanya, Basri hanya mempekerjakan tiga hingga empat orang untuk membantu membersihkan dan mengolah ikan bilih, tapi kini ia mempekerjakan 15 orang dalam sehari karena tingginya permintaan dan pasokan ikan yang masuk.

Basri menunjukkan ikan goreng bilih yang siap dijual ke pusat oleh-oleh di Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Untuk harga beli ikan bilih dari nelayan, itu tergantung musim dan ketersediaan ikan. Saat pasokan sedang banyak, ia menebus dengan harga Rp50 hingga Rp60 ribu per kilogram. Tetapi, jika ikan sedang sedikit harganya bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Selain di Sumatera Barat, terutama di sekitaran Danau Singkarak dan Kota Payakumbuh, Basri juga menjual ikan bilih ke Depok, Jawa Barat dan Kota Dumai, Provinsi Riau. Dari usahanya itu, ia tidak hanya berhasil menyekolahkan anaknya, tetapi juga membantu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Semangat untuk bangkit dan berjuang setelah bencana juga ditunjukkan oleh Bustami salah seorang petani manggis yang juga warga Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan. Pemuda Minangkabau ini tak ingin berlarut-larut dan hanya menunggu bantuan dari pemerintah.

Meskipun jalan utama menuju perkebunan manggis miliknya terputus akibat banjir bandang, Bustami tak putus asa. Justru itu menjadikannya sebagai sebuah tantangan untuk bangkit dari keterpurukan.

Bustami mengatakan banjir bandang di akhir November 2025 menyebabkan sabo dam dan jalan utama menuju hutan tempat ia menanam manggis putus total. Imbasnya, ia terpaksa berjalan kaki sejauh dua kilometer melewati aliran sungai yang sudah mengering dan dipenuhi batuan berukuran besar serta tumpukan kayu.

Tak hanya itu, ia juga harus melintasi jalan setapak yang terjal dan licin karena akses utama yang biasa ia lalui sudah terputus akibat banjir bandang. Perjuangan Bustami patut diacungi jempol. Sebab, setelah memetik buah manggis ia harus memikul dua keranjang sekaligus, masing-masing berisikan 20 kilogram buah manggis segar. Artinya, Bustami harus menggendong 40 kilogram buah manggis dan berjalan sejauh dua kilometer dari dalam hutan serta melintasi aliran sungai yang rusak serta dipenuhi bebatuan besar dan terjal.

"Hari ini saya panen manggis sekitar 100 kilogram. Kendala kami di sini sekarang itu sangat kesulitan membawa hasil panen ke bawah karena jalan yang terputus," ujar Bustami.

Seperti masyarakat lainnya, di awal-awal bencana terjadi Bustami sama sekali tidak memikirkan untuk memanen manggis miliknya karena masih trauma dan khawatir terjadi banjir bandang susulan. Buah-buah manggis segar itu terpaksa ia biarkan membusuk di pohon dan sebagiannya dinikmati oleh monyet.

"Sebelum bencana biasanya saya bisa panen 200 hingga 300 kilogram. Tapi, sekarang rata-rata panen hanya 100 kilogram karena banyak yang dimakan monyet pascabencana terjadi," sebut dia.

Hasil panen tersebut ia jual kepada seorang pengepul dengan harga Rp27 ribu per kilogram. Selain manggis, sehari-harinya ia juga bekerja sebagai petani sawah hingga bekerja sebagai buruh kasar jika ada proyek di desanya.

Agenda pariwisata

Bupati Tanah Datar, Eka Putra, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah agenda pariwisata untuk membangkitkan dan menggeliatkan perekonomian masyarakat pascabencana banjir yang terjadi di daerah tersebut.

Sebagai salah satu destinasi pariwisata internasional dengan unggulan kesenian dan kebudayaan, Tanah Datar menyiapkan sejumlah agenda pariwisata agar secepatnya pulih dan bangkit setelah dua bulan terdampak bencana.

Beberapa agenda wisata yang disiapkan di antaranya pacu jawi dan merupakan tradisi turun temurun masyarakat di daerah berjuluk "Luhak Nan Tuo" tersebut. Tradisi yang dilaksanakan setiap Sabtu itu menampilkan atraksi para joki dengan lincah untuk memacu sapi di lintasan yang berlumpur.

Kemudian, menjelang bulan suci ramadhan, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar juga mengagendakan pacu kuda yang digelar pada 8-9 Februari 2026 di Lapangan Dang Tuanku Bukik Gombak, Kecamatan Lima Kaum.

Event yang tidak kalah menarik ialah agenda menjaring ikan (manjalo ikan bilih) di kawasan Danau Singkarak. Event ini menyuguhkan atraksi dan keterampilan seseorang dalam menjaring ikan endemik danau tersebut.

Eka optimistis berbagai agenda pariwisata yang disiapkan tersebut bisa mempercepat pertumbuhan dan pergerakan perekonomian masyarakat setelah dua bulan dihantam banjir bandang dan tanah longsor.

"Kami harus bangkit dari bencana ini," kata Bupati Tanah Datar Eka Putra.

Kini, secara perlahan masyarakat mulai menatap masa depan agar tidak selamanya terjebak di tengah bayang-bayang bencana. Sebab, mereka yang berjuang percaya bahwa semangat untuk bangkit itu terus ada dan mengalir di nadi mereka.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Habis bencana, terbitlah harapan

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026