Rupiah menguat karena imbal hasil obligasi AS turun
Kamis, 14 Desember 2023 9:46 WIB
Ilustrasi - Petugas perbankan menghitung uang pecahan rupiah. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww/aa. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta (ANTARA) - Rupiah pada awal perdagangan Kamis menguat karena imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) menurun setelah pengumuman hasil keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) AS.
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi meningkat tajam 193 poin atau 1,23 persen menjadi Rp15.468 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.661 per dolar AS.
"Indeks dolar AS dan imbal hasil treasury AS turun setelah keputusan FOMC," kata analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Indeks dolar AS melemah menjadi 103,2, level terendah dalam sepekan terakhir. Demikian pula imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun di bawah 4,1 persen, terendah sejak awal 23 Agustus.
Perkembangan tersebut diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Indonesia pada perdagangan hari ini, yang memungkinkan nilai tukar rupiah terapresiasi terhadap dolar AS dan peningkatan pasar saham domestik, sambil menunggu rilis data neraca perdagangan.
Reny memprediksi rupiah berpotensi menguat pada kisaran Rp15.495 per dolar AS hingga Rp15.575 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pergerakan pasar keuangan global akan dipengaruhi oleh keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tetap stabil di level 5,5 persen pada FOMC pertemuan kemarin dan adanya rencana tiga kali penurunan suku bunga pada 2024. Keputusan The Fed tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar.
The Fed melihat indikator-indikator AS terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah melambat, peningkatan lapangan kerja telah melambat namun tetap kuat, dan tingkat pengangguran tetap rendah.
Selain itu, sistem perbankan AS sehat dan tangguh. Kondisi keuangan dan kredit yang lebih ketat bagi rumah tangga dan dunia usaha kemungkinan besar akan membebani aktivitas ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi sehingga suku bunga acuan AS atau Federal Funds Rate (FFR) dipertahankan.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak 11 kali sejak 22 Maret, yang merupakan laju pengetatan tercepat sejak awal tahun 1980-an.
Ke depan, The Fed mengupayakan lapangan kerja dan inflasi maksimum sebesar 2 persen dalam jangka panjang dengan pemangkasan suku bunga setidaknya tiga kali menjadi 4,75 persen pada 2024.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah menguat karena imbal hasil obligasi AS turun
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi meningkat tajam 193 poin atau 1,23 persen menjadi Rp15.468 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.661 per dolar AS.
"Indeks dolar AS dan imbal hasil treasury AS turun setelah keputusan FOMC," kata analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Indeks dolar AS melemah menjadi 103,2, level terendah dalam sepekan terakhir. Demikian pula imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun di bawah 4,1 persen, terendah sejak awal 23 Agustus.
Perkembangan tersebut diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Indonesia pada perdagangan hari ini, yang memungkinkan nilai tukar rupiah terapresiasi terhadap dolar AS dan peningkatan pasar saham domestik, sambil menunggu rilis data neraca perdagangan.
Reny memprediksi rupiah berpotensi menguat pada kisaran Rp15.495 per dolar AS hingga Rp15.575 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pergerakan pasar keuangan global akan dipengaruhi oleh keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tetap stabil di level 5,5 persen pada FOMC pertemuan kemarin dan adanya rencana tiga kali penurunan suku bunga pada 2024. Keputusan The Fed tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar.
The Fed melihat indikator-indikator AS terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah melambat, peningkatan lapangan kerja telah melambat namun tetap kuat, dan tingkat pengangguran tetap rendah.
Selain itu, sistem perbankan AS sehat dan tangguh. Kondisi keuangan dan kredit yang lebih ketat bagi rumah tangga dan dunia usaha kemungkinan besar akan membebani aktivitas ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi sehingga suku bunga acuan AS atau Federal Funds Rate (FFR) dipertahankan.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak 11 kali sejak 22 Maret, yang merupakan laju pengetatan tercepat sejak awal tahun 1980-an.
Ke depan, The Fed mengupayakan lapangan kerja dan inflasi maksimum sebesar 2 persen dalam jangka panjang dengan pemangkasan suku bunga setidaknya tiga kali menjadi 4,75 persen pada 2024.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah menguat karena imbal hasil obligasi AS turun
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor : Siri Antoni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Solidaritas Nasional menguat, Mahyeldi Tegaskan Sumatera Barat tidak sendiri hadapi bencana
31 December 2025 9:11 WIB
Saat Badai Menguji, Kebersamaan Menguat: PLN, TNI, dan Polri Sigap Pulihkan Cahaya Sumbar
04 December 2025 16:21 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Jumat (13/02/2026) pagi emas UBS Rp3,008 juta/gr dan Galeri24 Rp2,992 juta/gr
13 February 2026 8:29 WIB
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (09/02/2026) hari ini, simak daftarnya
09 February 2026 9:06 WIB