Padang (ANTARA) -
Masjid Raya Sumatera Barat, yang menjadi salah satu ikon wisata religi, dijadikan pusat pembelajaran falsafah hidup masyarakat Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).
 
"Ada dua hal yang disandingkan dalam ABS SBK yaitu agama dan adat. Pemprov Sumbar mengupayakan pembelajaran keduanya bisa seiring di Masjid Raya," kata Kabag Bina Mental Biro Bina Mental dan Kesra Sumbar Elsandra Eka Putra di Padang, Kamis.
 
Menurut dia, pembelajaran ABS SBK penting dilakukan untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang pernah melahirkan banyak tokoh yang diakui secara nasional dan internasional.
 
"Sekarang tidak banyak yang memahami falsafah ABS SBK. Mungkin itu pula yang menyebabkan tidak banyak lagi tokoh nasional yang muncul dari Sumbar," katanya.
 
Eka menyebut untuk bidang agama, Pemprov Sumbar telah menyiapkan program Tahsin di Masjid Raya Sumbar. Tahsin adalah sebuah metode atau upaya memperbaiki bacaan Al Quran. Hal itu sebagai upaya seorang Muslim agar bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar.
 
Menurut dia, masyarakat yang belajar Tahsin di masjid itu rata-rata adalah orang tua dan pensiunan yang datang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar. Pemprov Sumbar tidak membatasi jumlah orang yang ingin belajar.
 
"Siapa saja yang mau belajar Tahsin bisa datang pada Selasa dan Kamis," katanya.
 
Selain Tahsin, di Masjid Raya Sumbar juga digelar sejumlah pelatihan dan kegiatan keagamaan lain seperti tahfiz dan shalat jenazah.
 
Sementara untuk pembelajaran adat dan budaya, Eka menyebut pihaknya sedang menyiapkan program yang sesuai dengan bimbingan tokoh adat dan Bundo Kanduang.
 
"Kami sedang mengupayakannya. Saat ini masih ada kendala terkait anggaran," katanya.
 
Menjadikan Masjid Raya Sumbar sebagai pusat pembelajaran ABS SBK merupakan salah satu janji Gubernur Sumbar Mahyeldi yang diakomodasi dalam RPJMD 2021-2026.
 
Penetapannya sudah dilakukan sejak Desember 2022. Namun, untuk program pembelajaran baru dijalankan pada 2023 dan masih terfokus pada bidang keagamaan sedangkan bidang adat dan budaya masih dalam proses.

Pewarta : Miko Elfisha
Editor : Joko Nugroho
Copyright © ANTARA 2024