Solok (ANTARA) - Rumah kelahiran pahlawan Mohammad Natsir terletak di pinggir jembatan baukia, dekat pasar tradisional Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar dengan warnanya didominasi kuning yang cukup mencolok. 

"Di rumah inilah Bapak Mohammad Natsir dilahirkan. Tepatnya pada tanggal 17 Juli 1908 dari pasangan Bapak Idris Sutan Saripado dengan istrinya Khadijah," kata salah seorang cucu sahabat orang tua Buya M Natsir sekaligus pemilik rumah kelahiran itu Tuti Murniati (69) di Alahan Panjang, Jumat.  

Lebih lanjut, Tuti menjelaskan beradasarkan cerita dari neneknya yang bernama Siti Zahara bahwa kakeknya bernama Kamal Sutan Rajo Ameh berteman baik dengan orang tua Buya M Natsir yang sebelumnya berasal dari Bukittinggi.   Cucu Kamal Sutan Rajo Ameh (sahabat orang tua Buya M Natsir sekaligus pemilik rumah kelahiran itu) di Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar Tuti Murniati (69) (ANTARA/Laila Syafarud)
"Mereka sama-sama pedagang, yakni berdagang rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan lainnya yang dijual ke daerah Bukittinggi, Payakumbuh, dan Painan," kata dia.  

Suatu ketika orang tua dari Buya M Natsir menyampaikan suatu pesan bahwa dia dan istrinya ingin pindah ke Alahan Panjang. Karena tidak betah tinggal di Bukittinggi akibat penganiayaan yang dilakukan oleh penjajah Belanda. 

"Kakek kami pun menyambut baik kedatangan beliau dan istrinya, karena anak kakek banyak yang hidup di rantau. Mereka pun tinggal bersama di rumah sederhana ini," ujar dia. 

Setelah beberapa tahun pasangan suami istri itu tinggal di Alahan Panjang, lahirlah anak mereka yang diberi nama Mohammad Natsir, tepatnya pada tanggal 17 Juli 1908 di rumah sederhana itu. 

Seiring berjalannya waktu, ketika umur M Natsir sekitar lima sampai enam tahun, Nagari Alahan Panjang dinyatakan dalam keadaan genting atau darurat. Pemerintah setempat mengumumkan agar masyarakat segera meninggalkan rumah untuk pergi menyelamatkan diri ke bukit-bukit.  

"Karena terdapat kabar bahwa penjajah Belanda akan melakukan serangan bom di Nagari Alahan Panjang," ucap dia. 

Semenjak kejadian itu, maka berpisahlah keluarga Idris (orang tua Buya M Natsir) dan keluarga Kamal (kakek Tuti). Keluarga Idris kembali ke kampung halaman mereka di Maninjau, sementara keluarga Kamal mengungsi ke daerah pegunungan di Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti karena tempat tersebut belum di ketahui oleh penjajah Belanda waktu itu.  

Sesampai di Alahan Panjang setelah pulang dari tempat pengungsian sekitar tiga hingga empat bulan lamanya, keluarga Kamal menemukan rumah tempat kelahiran M Natsir tersebut habis dibakar oleh penjajah Belanda. 

"Rumah sebelumnya sudah dibakar penjajah Belanda. Setelah kemerdekaan rumah ini kembali dibangun, persis seperti aslinya untuk mengenang sejarah," kata Tuti.

Sampai saat ini Tuti bersama keluarganya terus berupaya membangun dan melestarikan rumah bersejarah paninggalan kakeknya. Di mana rumah itu merupakan tempat kelahiran Buya M Natsir yang saat ini telah diangkat sebagai pahlawan nasional.  

Selain itu, Tuti juga mengatakan bahwa ia pernah bertemu buya M Natsir sekitar tahun 70an. Menurutnya buya merupakan sosok yang sangat sederhana, cerdas, dan rendah hati.

"Bahkan saat M Natsir diangkat menjadi menteri pun rumah dan pakaiannya tampak sederhana dan tetap menghargai keluarga kami yang berkunjung ke rumahnya, meskipun tamu beliau sangat ramai waktu itu," kata dia. 

Kendati merupakan rumah milik pribadinya, Tuti tidak membatasi siapa pun yang hendak berkunjung ke rumah bersejarah itu. Bahkan sebelum dipasangkan plang rumah kelahiran M Natsir oleh dewan dakwah Indonesia sudah banyak yang berkunjung baik dari dalam maupun luar negeri hanya sekadar mengenang sejarah kelahiran M Natsir.  

"Sekarang sudah dipasangkan papan petunjuk sebagai rumah kelahiran Bapak M Natsir oleh Dewan Dakwah. Sehingga memudahkan siapa pun yang berkunjung ke sini," kata dia. 

 

Pewarta : Laila Syafarud
Editor : Maswandi
Copyright © ANTARA 2024