Jakarta (ANTARA) - Pada hari ulang tahunnya yang ke-19, Rafael Nadal sudah membuat hal besar yang jarang dilakukan petenis sebelum dan sesudah dia.

Saat itu, Juni 2005, untuk pertama kalinya dia mengikuti Grand Slam lapangan tanah liat di Prancis dalam French Open.

Di sana dia mengalahkan Roger Federer dalam semifinal untuk menjadi petenis keempat yang mengalahkan si penguasa lapangan tenis era itu setelah Marat Safin, Richard Gasquet, dan David Nalbandian.

Dua hari setelah menumbangkan Federer, dia menaklukkan Mariano Puerta dalam final guna menjadi petenis kedua sepanjang masa setelah Mats Wilander pada 1982 yang menjuarai French Open langsung pada kesempatan pertama.

Dia juga menjadi remaja putra pertama yang menjuarai turnamen Grand Slam setelah Pete Sampras menjuarai US Open 1990 dalam usia 19 tahun.

Itu terjadi saat Casper Ruud yang menjadi lawan Nadal pada final French Open 2022 masih duduk di bangku sekolah dasar, masih berusia tujuh tahun.

17 tahun setelah merebut gelar juara French Open pertamanya Nadal tak terlihat rapuh dan ringkih di hadapan petenis yang berusia 12 tahun di bawahnya. Nadal kelahiran 3 Juni 1986, sedangkan Ruud kelahiran 22 Desember 1998.

Di Lapangan Philippe-Chatrier di Roland Garros, Minggu sore 5 Juni 2022 itu, Nadal justru menjadi petenis yang energinya lebih besar dibandingkan dengan Ruud yang belum lama meninggalkan status remajanya.

Ruud takluk 3-6, 3-6, 0-6 kepada Nadal dalam waktu 2 jam 18 menit. Di sini, usia ternyata tidak selalu berhubungan dengan ketahanan fisik. Yang jauh lebih tua bisa lebih kuat dari yang lebih muda.

Tetapi Nadal tidak bersimpuh di lapangan untuk merayakan suksesnya yang ke-14 di Roland Garros.

Tak ada aksi teatrikal. Cuma kedua tangan yang diangkatnya tinggi-tinggi, seperti berulang kali dia lakukan sepanjang karirnya dalam French Open.

Dia menang dengan begitu dominan menghadapi petenis yang baru kali ini masuk final Grand Slam dan sekaligus jebolan akademi tenis yang didirikannya, sampai-sampai tak memberi kesempatan Ruud mendapatkan satu poin pun pada set terakhir.

Tapi itu malah semakin menguatkan warisannya sebagai yang tak tertandingi dalam turnamen Grand Slam tanah liat dan sekaligus tenis.

Dengan menjuarai French Open untuk ke-14 kalinya, Nadal juga memperbanyak koleksi gelar Grand Slamnya menjadi 22.

Itu dua gelar lebih banyak dibandingkan Novak Djokovic dan Roger Federer. Juga, cuma kurang dua gelar dari Margaret Court yang menjadi petenis dengan gelar juara Grand Slam nomor tunggal terbanyak bersama 24 trofi.

Dia juga menjadi juara French Open tertua sepanjang masa yang menjuarai turnamen tenis.

The King

Untuk orang yang dijuluki "Raja Lapangan Tanah Liat", sukses beberapa jam lalu itu sudah tak mengejutkan lagi. Namun untuk mencapai level itu, dia melalui masa yang hampir membunuh karir tenisnya.

Maret lalu dia mengalami retak tulang rusuk di Indian Wells. Bersama sakit berulang-ulang akibat cedera kaki kirinya yang kronis, membuat perjalanannya di Roland Garros diragukan berjalan mulus.

Faktanya dia membuang semua ekspektasi buruk terhadapnya. Dia mencatat kemenangan menawan babak demi babak, termasuk dalam perempatfinal saat menyingkirkan musuh bebuyutan Novak Djokovic dan unggulan kesembilan Felix Auger-Aliassime dalam lima set.

Keberhasilannya menciptakan antiklimaks untuk Ruud, membuat Nadal disanjung legenda-legenda tenis, dari Rod Laver sampai Billie Jean King, selain ditinggikan petenis-petenis muda era ini.

Ons Jabeur, petenis putri nomor 6 dunia dan petenis Arab berperingkat tertinggi dalam sejarah ATP dan WTA, mencuit singkat "The King" begitu Nadal mengalahkan Ruud.

Padahal setahun lalu Nadal diselimuti ragu melanjutkan karir. Tahun lalu itu, setelah diterkam Djokovic dalam semifinal French Open 2021, dia hanya tampil dalam satu turnamen, yakni Citi Open di Washington.

Setelah mundur dari Canadian Open pada Agustus tahun itu, dia mengumumkan tak bisa melanjutkan musim kompetisi. Desas desus pun merebak luas, bahwa dia bakal meninggalkan dunia tenis profesional.

Tapi setelah tahun itu, awal musim 2022 dalam Australian Open, Nadal akhirnya melanjutkan kiprahnya. Dan walau diganggu oleh COVID-19, dia telah membuktikan diri sudah kembali.

Di sanalah dia membuat catatan sejarah dengan meninggalkan Djokovic dan Federer guna menjadi petenis putra yang paling sering menjuarai Grand Slam setelah menaklukkan Daniil Medvedev, 2-6, 6-7 (5), 6-4, 6-4, 7-5, dalam final Australian Open 2022.

Ternyata tak berhenti di sana. Dia juga menjuarai Mexican Open, lalu Indian Wells sekalipun sambil melawan retak tulang iga kalah melawan Taylor Fritz dalam final.

Kembali dia diragukan bisa tampil dalam French Open tahun ini. Tapi dia akhirnya tiba di Paris, sampai semua orang tahu seperti apa perjalanannya di Roland Garros edisi ini, mulai dari mengalahkan Jordan Thompson dengan 6-2, 6-2, 6-2 dalam waktu dua jam pada babak pertama, sampai membunuh impian Casper Ruud menjadi atlet tenis pertama Norwegia yang menjuarai turnamen Grand Slam.

"Saya kira level dia semakin tinggi saja, satu langkah di depan," kata Auger-Aliassime seperti dikutip laman ESPN.

Bahkan Djokovic pun tak bisa menghentikannya. Petenis Serbia ini kalah empat set dalam perempatfinal. "Hari ini saya kalah dari petenis yang lebih baik," kata Nadal.

Ruud yang mengidolakan Nadal dan pernah dilatih di akademi Nadal selama beberapa tahun pun dibuat tak berkutik.

Alih-alih kecewa dikalahkan Nadal, Ruud malah berkata, "Anda inspirasi sejati bagi saya dan untuk semua orang yang mengikuti tenis di seluruh dunia. Kami semua berharap Anda mau terus sampai beberapa waktu lagi."

Namun demikian Nadal belum pasti mengikuti turnamen Grand Slam berikutnya di Wimbledon di Inggris mulai 27 Juni nanti, apalagi pada hari dia menaklukkan Casper Ruud, Nadal mesti disuntik untuk mematikan saraf di kakinya sehingga tak berasa sakit.

Dia bilang Wimbledon prioritasnya dan akan selalu begitu, namun Nadal belum bisa memastikan mengikuti turnamen ini. "Lihat saja nanti," kata dia seperti dikutip Reuters.
 

Pewarta : Jafar M Sidik
Editor : Joko Nugroho
Copyright © ANTARA 2024